Scroll untuk membaca artikel
Chandra Iswinarno
Senin, 11 Januari 2021 | 13:40 WIB
Takmir, Al-Maliki menunaikan salat di Masjid Jami Al-Istikomah Jalan Kusuma Wardani, Pleburan, Kota Semarang. [Suara.com/Dafi Yusuf]

"Iya pernah juga ditangkap oleh polisi. Tak terhitung berapa kali saya ikut perkelahian," ucapnya. 

Hingga tiba di suatu peristiwa yang takkan pernah dilupakannya. Ketika seorang temannya ditemukan meninggal dimutilasi oleh orang tak dikenal di Tangerang beberapa tahun lalu. Dari situ, Al-Maliki mulai dapat hidayah untuk bertaubat. 

"Iya itu kejadian yang tak pernah terlupakan," katanya. 

Meski mengalami manis pahitnya hidup di jalanan, Al-Maliki tak ingin melupakan masa-masa jahiliyah-nya. Dia memilih untuk mengambil pelajaran semua hal yang pernah dia lakukan ketika hidup di jalanan. 

Baca Juga: Tinggalkan Kehidupan Jahiliyah, Al Maliki Pria Bertato Jadi Hafiz Quran

"Saya akan jadikan pelajaran kehidupan jahiliyah saya," ujarnya. 

Al-Maliki saat ditemui di Masjid Jami Al-Istikomah (suara.com/Dafi Yusuf)

Saat ini, dia sibuk menjadi takmir masjid dan menghafal Alquran. Selain itu, beberapa kali, Al-Maliki juga sering diundang untuk ceramah di beberapa tempat.

Setelah hijrah, hanya dua hal yang ingin dia lakukan. Pertama, dia ingin bertemu dengan ibunya. Sejak dia lahir, Al-Maliki tak pernah bertemu dengan ibunya. Bahkan, dia juga sudah lupa dengan wajah ibunya. 

"Katanya ibu saya ada di Kalimantan, saya dari kecil tak pernah lihat ibu saya. Saya ingin melihatnya," harapnya. 

Kedua, dia ingin istikomah menempuh jalan hijrah ke arah yang lebih baik. Tahun depan, dia ingin berdakwah di beberapa tempat di luar Jawa. Dia mengaku sudah ada rencana daerah-daerah yang akan dikunjungi tahun depan. 

Baca Juga: Meski Badan Dipenuhi Tato, Al-Maliki Tak Malu Jadi Takmir Masjid

"Saya ingin dakwah di luar Jawa. Sudah ada rencana," ujarnya. 

Load More