Scroll untuk membaca artikel
Denada S Putri
Rabu, 26 Maret 2025 | 12:44 WIB
Ribuan ikan di perairan Bontang Leatari mati mendadak diduga akibat terpapar limbah buangan PT Energi Unggul Persada. [kaltimtoday.co]

"Bagaimana mau hidup ikan. Hitam airnya, bau comberan juga," bebernya.

Akibat kejadian ini, nelayan setempat mengalami kerugian berlapis.

Pertama, hasil tangkapan mereka jadi berkurang lantaran berbagai hasil laut seperti kepiting, kerang, ikan-ikan seperti baronang, bawis, dan bandeng, mati semua.

Ikan yang mati secara mendadak itu tak mungkin dipungut nelayan lantaran dikhawatirkan mengandung racun membahayakan.

Baca Juga: Jadwal Imsak untuk Balikpapan, Samarinda dan Bontang 20 Maret 2025

Kedua, area tangkapan nelayan jadi terlalu luas. Ini berimbas pada naiknya biaya operasional karena kapal mereka memerlukan bahan bakar. 

"Kalau dulu bisa kami dapat Rp500 ribu per hari, tapi sekarang, bahkan bisa kurang dari Rp100 ribu," ungkapnya.

Pria ini berharap Pemkot Bontang mengambil sikap terkait dugaan pencemaran laut ini.

Sebab, ini terkait dengan mata pencarian ratusan nelayan yang bermukim di sekitar PT EUP, bukan cuma di Bontang tapi berdampak terhasap nelayan Kukar.

"Harapan ke pemerintah, kalau bisa jangan dibuang di situ limbahnya," tandasnya.

Baca Juga: Jadwal Buka Puasa untuk Balikpapan, Samarinda dan Bontang 19 Maret 2025

Nelayan lain, sebut saja Ujang, juga mengatakan hal serupa.

Load More