SuaraKaltim.id - Pernahkah Anda mencoba menekan emosi saat sedang merasa kecewa atau kesal? Perasaan tersebut sengaja tidak diluapkan dengan alasan tertentu dan memilih menyembunyikannya.
Kalau begitu, itu artinya Anda sedang melakukan supresi.
Dalam psikologi, supresi diartikan sebagai tindakan yang dipilih secara sadar untuk menutupi pikiran, perasaan atau dorongan terkait perilaku tertentu.
Salah satu perasaan yang seringkali disembunyikan orang adalah sedih, marah, kecewa dan kesal.
"Banyak sebenarnya teknik untuk menekan kemarahan, supresi salah satu yang sering kita pakai," kata psikiater dr. Jiemi Ardian Sp.KJ., dikutip dari kanal YouTube-nya.
Menurutnya, supresi bisa saja baik dilakukan. Namun menjadi masalah jika cara itu jadi satu-satunya yang dilakukan untuk mengendalikan marah.
Sebab jika emosi marah terus ditahan sampai jangka waktu lama dan tidak diselesaikan, tindakan tersebut dapat memicu respon psikologis yang akan mengganggu. Persoalannya, amarah yang ditekan juga tidak kunjung pergi.
"Ada beberapa konsekuensi negatif dari supresi. Ketika menekan marah, kita sedang menyangkal sisi kemanusiaan kita. Kita tidak sedang menerima seutuhnya diri kita," ujar Jiemi.
Ia menegaskan, bukan berarti setiap amarah hanya memiliki dua pilihan untuk ditekan atau dilepaskan. Tetapi yang perlu diperhatikan, kata Jiemi, menyadari sisi bahaya dari selalu menekan rasa marah.
Baca Juga: Terkenal Plin-plan, Zodiak Ini Gampang Berubah Pikiran, Kamu Termasuk?
Jiemi menyampaiakan, pada penelitian terbaru tahun 2020 disebutkan bahwa terlalu sering menekan emosi bisa berdampak kesulitan memahami perasaan orang lain, terutama perasaan marah.
Pada akhirnya, hal itu dapat berimbas berkurangnya rasa empati.
"Juga bisa berdampak pada perilaku. Ketika kita terlalu sering menekan kemarahan akan menjadi sulit untuk merasakan perasaan tertentu. Sehingga bukannya merasa marah, kita justru merasakan cemas atau malu karena merasa marah," kata dokter yang biasa praktik di Rumah Sakit Siloam Bogor itu.
Menekan perasaan marah juga bisa menghabiskan banyak energi. Menurut Jiemi, kondisi itu akan membuat seseorang sulit fokus dalam keadaan tertentu.
Dari dalam perasaan marah sebenarnya ada pesan yang akan disampaikan, lanjut Jiemi.
Tapi, memahami pesan itu menjadi tantangan tersendiri termasuk bagaimana membangun kesadaran aman terhadap rasa marah, mengelolanya tanpa menekan dan menyampaiakan seadanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
-
Kabar Rudy Mas'ud ke Singapura saat Kaltim Dilanda Kabut Asap, Pemprov Minta Maaf
-
Viral Gubernur Rudy Mas'ud di Singapura saat Karhutla, Pemprov Kaltim Klarifikasi
-
Rudy Mas'ud Viral Lagi, Kali Ini Kedapatan di Singapura saat Kaltim Karhutla