Scroll untuk membaca artikel
Yovanda Noni
Selasa, 03 November 2020 | 10:26 WIB
Alvaro dan Triniti, dua bocah korban bom gereja di Samarinda. [foto: FB Novita sagala]

Masih kental diingatan Novita, bagaimana dia dan suaminya berjuang mengupayakan kesembuhan Alvaro.

Biaya pengobatan Alvaro menelan angka sampai 1 miliar rupiah. Sempat melewati proses penyembuhan di Rumah Sakit AW Sjahranie, Alvaro kemudian pindah berobat ke Kuala Lumpur, malaysia.

“Luka bakar di jari kanan sempah membusuk. Pembersihan bekas luka tidak maksimal, jadi ada yang busuk. Nyaris diamputasi, untung segera ditangani,” ujarnya.

Saat ini, kata Novita, keluarga masih mengusahakan kesembuhan psikis Alvaro. Walau Alvaro mengatakan dia baik-baik saja, namun mentalnya masih belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Picu Protes dan Ketegangan, Makam Pelaku Bom Gereja di Sri Lanka Dipindah

Ketika mendengar suara keras atau bunyi dentuman, dia kaget dan gemetar.

“Kalau ada suara yang keras mengejutkan, dia akan ketakutan. Dia memang tidak selalu bilang, tapi semua bisa lihat sendiri ketika dia gemetar,” sebutnya.

Selain itu, Novita juga berupaya menguatkan hati anaknya. Keadaan cacat fisik karena luka bakar itu tidak hilang.

Di sekolah, Alvaro terlihat rendah diri. Terkadang, ada juga teman sekolah yang merundungnya. Novita berjuang membangun mental Alvaro agar lebih kuat menerima keadaannya.

“Ya siapa yang tidak rendah diri kalau memiliki bekas luka seperti Alvaro. Terkadang akalau ada yang oloki-olok, dia menangis ke saya. Tapi saya katakan pada dia, Tuhan maha baik. Ketika diolok, maka Tuhan akan memberi kasihnya untuk kita yang lemah,” pungkasnya.

Baca Juga: Suami Istri WNI Bom Gereja Filipina, Menlu Masih Komunikasi dengan Kapolri

Load More