Tangkapan layar, Azam Khan si penyebut 'hanya monyet' meminta maaf. [Instagram/@balikpapanpo_]
"Selesaikan apa yg sudah di mulai !!," tegasnya.
"Gak nyambung kau pak , atutt yaa , agak lain kau kuliat," sambatnya.
"Memaafkanmu adalah urusan tuhan, tapi mengirim mu kepada tuhan adalah urusan ku," bebernya.
"Memaafkanmu adalah urusan tuhan, tapi mengirim mu kepada tuhan adalah urusan ku," tukasnya.
"Bisa selesai tp pakai hukum adat ya pak..Biar ke depannya tidak sembarang ngomong kalau jadi advokat..Ok bapak azam khan yang terhormat..," ucapnya.
"KENDOR KAH PO? Oiya BTW SUMPAH DEMI ALLAH SWT aku ga pernah mau SODARAAN sama kau yaa CAMKAN , dan juga EMANGNYA kamu lahir tahun berapa boss ko nganggapnya KALIMANTAN ini hutan melulu," tandasnya.
Hingga berita ini selesai ditulis, unggahan tersebut sudah disukai sebanyak 158 kali oleh warganet.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Potret Indonesia dari Dekat, BRI inFrame 2026 Rekam Kisah Ekonomi Kerakyatan
-
Danamon Travel Fair Hadir Kembali, Raih Promo Hemat hingga 70%
-
254 Penerbangan di Kalimantan Terganggu Akibat Kabut Asap Karhutla
-
Karhutla Kaltim: Hotspot Naik 2 Kali Lipat, Asap Berasal dari Kebakaran Lokal
-
Di Tengah Gaung Erau dan IKN, Guru Kukar Didorong Adaptif Terhadap Teknologi