Eko Faizin
Sabtu, 07 November 2026 | 13:42 WIB
Aksi mahasiswa di Kantor PLN Samarinda berakhir ricuh, Kamis (5/11/2026). [Dok Kaltimetam]
Baca 10 detik
  • Mahasiswa HMI Cabang Samarinda bersama aliansi masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di Kantor PLN UP3 pada Kamis, 5 November 2026.
  • Aksi unjuk rasa tersebut berujung ricuh akibat tindakan represif kepolisian, menyebabkan ketua HMI dan seorang anggota mengalami luka-luka.
  • Massa menuntut pencopotan Manajer PLN UP3 Samarinda, transparansi data pembangkit listrik, serta kompensasi atas pemadaman bergilir yang merugikan masyarakat.

SuaraKaltim.id - Aksi mahasiswa di Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Samarinda, Jalan Gajah Mada, Kamis (5/11/2026) berakhir ricuh.

Kericuhan terjadi ketika mahasiswa terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian. Petugas kemudian mengerahkan kendaraan water cannon untuk mengendalikan situasi.

Namun, tindakan tersebut justru memicu kemarahan massa demonstrasi jilid II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda yang menilai pengamanan berlangsung represif.

Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, mengatakan aksi tersebut merupakan lanjutan demonstrasi sebelumnya.

Kali ini, HMI turut menghimpun elemen masyarakat, termasuk TRC-PPA dan kelompok ibu-ibu.

"Kami datang bersama, kami masuk bersama," ujar Shefa dikutip dari Kaltimetam--jaringan Suara.com.

Dia mengaku pihaknya menolak tawaran audiensi yang hanya melibatkan 10 orang perwakilan.

Dalam demo itu, Ketua HMI Cabang Samarinda dilaporkan mengalami pecah bibir dan lebam pada tubuhnya. Ia kemudian dievakuasi menggunakan ambulans.

Sementara seorang anggota HMI lainnya juga mengalami luka di bagian kepala akibat tergores pagar.

Menurut Shefa, HMI sebenarnya bersedia berdialog di halaman parkir kantor PLN, asalkan perusahaan membuka data terkait persoalan pembangkit listrik yang diduga menjadi penyebab pemadaman bergilir.

"Bahkan jika hanya sekadar terjadi audiensi di halaman parkir seperti minggu lalu, kami terima asalkan ada data yang dibuka oleh pihak PLN," katanya.

Shefa juga mempersoalkan kondisi ketua cabang yang terluka saat kericuhan berlangsung. Ia menyebut ketua HMI sempat terdesak hingga terjatuh di tengah situasi yang memanas.

"Ketua HMI Cabang Samarinda terdesak, terduduk, tengkurap, jatuh di sana dan ada pecah bibirnya dan lebam-lebam juga," ungkapnya.

Pada aksi tersebut, HMI membawa tiga tuntutan, yakni meminta pencopotan Manajer PLN UP3 Samarinda Adrian Sitompul, transparansi persoalan pembangkit, serta kompensasi bagi masyarakat terdampak pemadaman bergilir.

"Kami meminta untuk mencopot Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, karena tidak mampu memberikan jawaban atas tuntutan kami minggu sebelumnya," ungkap Shefa.

Load More