“Makanya mas, aku butuh informasi yang bener-benar ketangkap tangan. Kemarin sabtu begitu dapat laporan, langsung turun sanksi,” tandasnya.
Satria meminta kepada pangkalan untuk menjual elpiji 3 kg sesuai ketentuan.
”Sesuai HET, sesuai kategori masyarakat miskin. Apabila ada pangkalan yang tidak mengindahkan peraturan yang telah dibuat maka Pertamina tidak segan memberikan pembinaan berupa sanksi skorsing hingga pemutusan hubungan usaha,” tegasnya.
Seorang Penjual gas elpiji di Pangkalan Kampung Baru Ujung menuturkan, tiap kali gas datang langsung diserbu warga. Bahkan ada yang dari daerah luar Kampung Baru.
Baca Juga:Satu Tahun Alih Kelola, PHR Sukses Tingkatkan Produksi Migas WK Rokan
”Kayak semalam datang langsung habis. Mereka dah tunggu sejak siang biasanya datang sore ini malam. Langsung habis,” kata Paman Lani yang mendapatkan 100 tabung tiap hari.
”Yang beli itu ada yang dari kilo. Kita menjual kepada warga yang antri dan mendaftar pakai KTP. Kita jual sesuai HET 19 ribu. Tapi memang yang datang dari mana-mana,” ucapnya.
Diakui dari mereka, yang mengantri ada yang dijual kembali seperti pengecer atau warung. Kemudian mereka juga menaikkan harga untuk mencari keuntungan.
”Kalau warung itu beli dijual harganya bisa Rp 35 ribu sampe Rp 40 ribu. Kita jual sini segitu Rp 19 ribu. Kita batasi satu tabung perorang,” tandasnya.
Lebih lanjut, atas temuan ini pangkalan diberikan skorsing.
Baca Juga:Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang Tahap I Mulai Dibangun
“Kemarin Sabtu saya dapat laporan ada pangkalan yang nakal karena jual ke pengecer dalam jumlah banyak dan sudah kita skorsing. Saya butuh informasi kalau memang ada pangkalan yang misalnya baru aja dikirim Gas 3 kg oleh agen lalu tiba-tiba habis sekejap dan mencurigakan agar kirim infonya. Supaya kita kasih pembinaan,” jelasnya.