SuaraKaltim.id - Unggahan foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di akun media sosial miliknya tengah membaca buku berjudul 'How Democracies Die' mendadak ramai diperbincangkan.
Berbagai respons dikemukakan mengenai unggahan foto tersebut. Salah satunya seperti disampaikan Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Fuad Ginting.
Dia mengemukakan, foto Anies Baswedan tersebut dinilai sebagai gimik politik Anies yang beroposisi terhadap pemerintah pusat.
"Foto itu sah-sah saja ya, merupakan trik atau gimik politik untuk menyampaikan sebuah pesan. Apalagi dia (Anies) adalah tokoh nasional dan foto itu pasti sengaja disebar untuk menyatakan sikap politiknya," kata Fuad.
Dengan memposting foto tersebut, Anies ingin menyampaikan kondisi demokrasi Indonesia menuju kematian seperti buku yang sedang dibacanya.
"Memang tangkapan masyarakat luas ketika melihat Anies memegang buku itu, yang dinilai seperti itu (kritik terhadap demokrasi Indonesia)," ujarnya.
Jika dilihat lebih jauh isi dari buku yang dipegang oleh Anies, jika dipakai "cocokologi" sesungguhnya semua pemerintahan akan kena dengan buku tersebut, bukan saja Indonesia.
Karena buku tersebut mengkritik proses demokrasi yang tidak berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.
"Semua pemerintahan akan kena singgung oleh buku tersebut kalau kita tidak melihat isi bukunya. Ada empat indikator dalam buku itu ciri-ciri pemerintah bersifat otoriter," ujarnya.
Baca Juga: Anies Baca Buku 'How Democracies Die': Trik Politik Menyampaikan Pesan
Lanjut Fuad, parameternya adalah adanya undang-undang yang berubah-ubah dan legitimasi terhadap oposisi.
Menurut Fuad, buku How Democracies Die yang dibuat untuk menyelamatkan demokrasi berangkat dari kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat yang menggunakan politik SARA dan menutup keran bersuara.
"Saya kira pemerintahan Joko Widodo saat ini belum sampai kepada indikator itu. Dan dalam buku tersebut tidak ada menyebut Indonesia. Meskipun disitu, menyinggung Venezuela, Srilanka dan Filipina," katanya.
Fuad beralasan, dalam pemerintahan Jokowi justru oposisi masuk dalam kabinet pemerintah. Sehingga kriteria dalam buku itu tidak tepat dengan kondisi demokrasi Indonesia.
"Justru yang menggunakan SARA dalam politik di Pilpres 2019 kemarin adalah lawannya Jokowi," ungkapnya seperti dikutip dari Suarasumut.id.
Sehingga, kata Fuad, tidak cocok jika buku yang dibaca oleh Anies Baswedan dikaitkan dengan kondisi demokrasi Indonesia saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng