SuaraKaltim.id - Mendengar kata Warteg alias warung tegal tentunya tak asing di telinga kita. Sajian makanan nasi rames dengan berbagai macam menu pilihan dan tentunya murah menjadi idaman semua masyarakat terutama dari kalangan warga kebanyakan.
Tak heran jika warteg selalu menjadi primadona pilihan utama masyarakat lantaran rasa makanan yang menyesuaikan dengan lidah warga sekitar dan tentunya tidak membuat dompet mengempis lebih cepat.
Berbicara tentang warteg, tentunya orang akan mengasosiasikannya dengan sebuah wilayah di kawasan pantai utara Jawa Tengah (Jateng).
Perjalanan warteg yang kini menjadi label masakan murah di seluruh Indonesia ini ternyata memiliki sejarah yang menarik.
Dikutip dari SuaraJateng.id, tersebut jika pelopor warteg berasal dari warga di tiga desa, yakni Desa Sidapurna, Desa Sidakaton, dan Desa Krandon. Ketiga desa tersebut diinformasikan mengelola warung makan secara bergantian.
Pun kemudian, warteg kali pertama muncul di Jakarta pada tahun 1950-an, bertepatan dengan pembubaran Republik Serikat Indonesia (RIS) yang menandai hijrahnya ibu kota Republik Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta.
Pembangunan besar-besaran di Jakarta dan migrasi penduduk ke kota atau urbanisasi menjadi pemicu suburnya warteg. Apalagi dalam kenyataannya, urbanisasi terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Para pekerja proyek infrastruktur dari pelosok wilayah Pulau Jawa jelas membutuhkan asupan makanan di sekitar wilayah pembangunan proyek.
Melihat peluang itu, sebagian orang-orang dari pelosok Pulau Jawa yang mengikuti urbanisasi, memilih menjual makanan sederhana dengan harga yang merakyat.
Baca Juga: 30 Menit Pas untuk Makan di Warteg, Riza: Orang Tua Tak Bisa Makan Cepat Seperti Anak Muda
Sehingga tak heran, jika pada awalnya kemunculan warteg menyasar masyarakat ekonomi menengah ke bawah, terutama pekerja proyek.
Harga makanan yang disajikan di warteg pun cukup bersahabat dan sesuai dengan porsi pekerja.
Tak heran jika saat ini pilihan untuk menyantap makanan di warteg menjadi pilihan tepat karena tidak terlalu menguras dompet.
Diketahui sebagian besar penjual warteg berasal dari Tegal, Jawa Tengah.
Mayoritas mereka memiliki garis keturunan para pendahulunya. Kini warteg telah berkembang pesat di seluruh penjuru Indonesia.
Usaha warteg pun dinilai cukup menjanjikan, karena laba usahanya lumayan besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri