SuaraKaltim.id - Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk nelayan mengalami kelangkaan. Imbasnya para nelayan berhenti melaut. Peristiwa itu terjadi di Balikpapan, berdasarkan keterangan dari Direktur Eksekutif Pokja Pesisir, Mappaselle.
Ia mengungkapkan, persoalan kelangkaan BBM merupakan persoalan yang cukup kompleks di Bumi Mulawarman. Bahkan katanya hal itu sudah terjadi beberapa tahun.
”Soal kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ini, menjadi persoalan klasik bagi nelayan. Sudah berapa tahun nelayan di Kota Balikpapan mengalami hal serupa, ini berdampak pada aktivitas nelayan untuk melaut, kelengkapan ini menyebabkan para nelayan tidak bisa melaut,” ungkapnya, melansir dari Inibalikpapan.com--Jaringan Suara.com, Minggu (12/12/2021).
Ia membeberkan, untuk mendapatkan BBM, nelayan harus membayar dengan harga tinggi. Lantaran BBM di luar stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) yang disediakan pemerintah.
“Kalaupun mendapatkan (BBM) dengan harga tinggi. Karena, nelayan memperoleh BBM itu tidak di SPBN, namun sudah di pengecer dan tentu saja harganya lebih tinggi dari SPBN yang ada,” akunya.
Menanggapi permasalahan itu, ia sudah melakukan desakan kepada Pemkot dan DPRD Balikpapan. Sayangnya belum ada solusi, ataupun tindakan.
“Upaya yang dilakukan sering mendesak pemerintah lewat Dinas Kelautan dan Perikanan lewat, DPRD juga sudah dilakukan,” tuturnya.
Menurutnya ada dua faktor terjadinya kelangkaan BBM pada nelayan Balikpapan. Pertama, kemampuan menghitung kuota kebutuhan BBM nelayan yang belum jelas dan transparan.
“Kedua ditengarai ada BBM yang tidak terdistribusi ke nelayan, namun malah dijual untuk keperluan lain,” paparnya.
Baca Juga: Hujan Lebat Disertai Petir Diperkirakan Terjadi di Wilayah Kaltim Hari Ini Dan Besok
Ia melanjutkan, untuk kebutuhan para nelayan, jumlah BBM yang dibutuhkan berbeda-beda. Hal tersebut berdasarkan jenis alat tangkap ikan.
“Jatah berbeda-beda tergantung dari jenis alat tangkapan. Kalau nelayan menggunakan dogol itu sekitar 30 sampai 50 liter, per hari untuk nelayan yang bisa lima hari melaut itu butuh sekitar 100 liter, kapal yang besar lagi penongkol itu bisa sampai 300 liter;” tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri
-
BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja BRI dan Berikan Dampak Bagi Perekonomian Rakyat