SuaraKaltim.id - Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu), melirik pasar ekspor biji kakao Amerika Serikat. Mereka mengklaim, saat ini mutu kakao di kawasannya.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Mahulu Saripudin. Ia mengatakan, pihaknya tinggal menunggu sertifikasi sebagai salah satu syarat untuk ekspor.
"Produksi kakao di Mahulu sudah bagus, mutunya juga sudah bagus dengan level A dan A Plus, sehingga sudah layak untuk diekspor, jadi sekarang tinggal menunggu sertifikasinya," ujarnya, melansir dari ANTARA, Rabu (29/6/2022).
Untuk pengembangan produksi kakao, katanya, petani kakao sejak beberapa tahun lalu telah mendapat pendampingan dari WWF. Kemudian tahun ini, WWF telah menggandeng PT Mars untuk melakukan sertifikasi kakao, melalui Rikolto di Indonesia.
JIa melanjutkan, jika kakao di Mahulu ini lolos sertifikasi, maka ekspor ke Amerika melalui perwakilan perusahaan Amerika yang ada di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel) bakal segera dilakukan.
Ia juga mengatakan, luas tanaman kakao di Mahulu saat ini sebanyak 2.300 hektare (ha). Di mana itu tersebar pada 5 kecamatan. Yakni, Kecamatan Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Laham, dan Kecamatan Long Hubung.
Sementara itu untuk produksinya antara 250 ton hingga 300 ton biji kakao kering per tahun, yakni rata-rata dua kali panen dalam setahun.
Saat ini, lanjutnya, produksi biji kakao di Mahulu masih dijual ke Samarinda dengan harga fluktuatif. Yakni di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 26 ribu per kilogram (kg).
"Harga Rp 22 ribu hingga Rp 26 ribu per kg ini merupakan harga yang diterima petani di tempat. Ada pengumpul di masing-masing kecamatan yang langsung membeli kakao dari petani seharga itu," ucapnya.
Baca Juga: aespa Sukses Gelar Showcase Pertama Bertajuk SYNK in LA, Dibanjiri 10.000 penonton!
Melalui pembinaan yang dilakukan selama ini, ia berharap perkebunan kakao di Mahulu terus meningkat. Apalagi jika ke depan kakao tersebut bisa menembus pasar ekspor, yang tentunya juga diperlukan tambahan suplai.
Untuk subsektor perkebunan lainnya, ia mengaku, hingga saat ini di Mahulu belum ada yang dikembangkan secara besar. Ada yang skala besar namun bukan perkebunan rakyat, tetapi dilakukan oleh perusahaan, yakni perkebunan sawit.
"Untuk kebun kelapa sawit, telah ada 11 perusahaan yang beroperasi di Mahulu. Sebagian sudah lama panen dan sebagian lagi masih dalam tahap penanaman atau belum produksi. Sekarang pun sedang dibangun pabrik sawit di Kampung Long Gelawang, Kecamatan Laham," jelasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
33,8 Juta Debitur Dilayani, BRI Perkuat Peran dalam Holding UMi
-
BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim
-
Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif
-
Kisah Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Bawa Cita Rasa Bubur Cirebon ke Taipei
-
Hadirkan BRImo Taiwan, BRI Raih Penghargaan Inovasi di IDX Channel 2026