SuaraKaltim.id - Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk membuka maskapai penerbangan sendiri, memang masih berlanjut hingga saat ini.
Untuk diketahui, Perumda Varia Niaga Samarinda dan PT Big Jet masih terlibat dalam diskusi serius. Guna melancarkan rencana tersebut.
Dikatakan Wali Kota Samarinda Andi Harun, rencana pemkot untuk membuka maskapai penerbangan perintis dan kargo antar provinsi di Kaltim ini sudah melalui perhitungan yang mantap.
Bahkan, katanya hal itu berdasarakan hasil kajian kedua atau feasibility study. Di mana disimpulkan, bisnis maskapai yang akan digarap oleh pemkot ini berpotensi menjanjikan buat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
"Dengan kalkulasi sangat konservatis sehingga ada perhitungan yang sangat optimistis,” kata orang nomor satu di Samarinda ini, melansir dari Presisi.co--Jaringan Suara.com, Senin (4/7/2022).
Lebih spesifik, ia menyampaikan bahwa pihaknya juga telah menjatuhkan pilihan pada pesawat jenis Avions de Transport Regional (ATR) 72 seri 600. Pesawat perintis dengan dua baling – baling itu dinilai mumpuni.
Pesawat buatan benua Eropa itu juga dinilai memiliki kecepatan kira - kira 900 knot/mil. Pesawat ini dipandang paling cocok untuk bisnis penerbangan di Kaltim.
Selain itu, pesawat ATR 72 seri 600 bisa landing dan lepas landas di bandara APT Pranoto. Saat landing, dengan menggunakan bandara dengan landasan pacu 1600 meter minimal sudah dapat dilakukan. Bahkan jarak tempuh pesawat berkapasitas maksimal 50 penumpang itu sanggup menempuh perjalanan sepanjang 1600 kilometer.
“Kami akan mendalami ini, karena sekarang banyak pesawat parkir dihampir seluruh dunia, jadi mendapatkan sewa dengan harga yang sangat murah ada peluang besar. Tidak seperti saat normal sebelum kondisi Covid – 19,” paparnya.
Baca Juga: Link Live Streaming Borneo FC Samarinda vs PSM Makassar di Perempatfinal Piala Presiden
Secara teknis, pemkot melalui Perumda Varia Niaga juga tengah mempelajari kemungkinan perusahaan penyedia pesawat bernama Big Jet untuk memberikan opsi - opsi terbaik dari kerjasama di sektor kedirgantaraan tersebut.
“Setelah hasil akhir sudah ada, baru kami ambil keputusan,” tegasnya.
Terpenting, ia sampaikan, rencana pemkot untuk membuka maskapai penerbangan ini murni tanpa APBD. Melainkan, sindikasi bank atau fasilitas kredit dari perbankan, atau lembaga pembiayaan lain dan bentuk investasi maupun modal kerja dengan syarat dan ketentuan kredit yang disepakati semua pihak.
“Kemungkinan pembiayaan memakai sindikasi bank atau pola penawaran investasi dengan pihak ketiga,” paparnya.
Menurutnya lagi, dengan bertambahnya aktivitas penerbangan di APT Pranoto yang berlokasi di Kecamatan Sungai Siring, bakal berpengaruh positif terhadap penambahan jumlah penerbangan.
Dengan begitu, sektor penerbangan perintis yang kembali dibangkitkan tersebut minimal menetes ke masyarakat bawah atau trickle down effect.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Pegadaian Imbau Nasabah Tetap Tenang, Likuiditas Tabungan Emas Aman dan Terjamin
-
Menteri PKP Apresiasi Kontribusi BRI dalam Menyukseskan Program Perumahan Rakyat
-
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Kaltim Tetapkan Status Siaga Bencana
-
3 Mobil Bekas 7-Seater Harga 50 Jutaan, Tangguh buat Perjalanan Jauh
-
Meningkat, Kaltim Sukses Produksi 270 Ribu Ton Padi pada 2025