SuaraKaltim.id - Masyarakat di sejumlah wilayah di Balikpapan mengalami kesulitan mencari gas elpiji 3 kilogram (Kg). Wilayah yang mengalami kesulitan di antaranya sebagian Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kelurahan Damai dan Kelurahan Karang Rejo atau wilayah Antasari Gunung Kawi.
”Saya keliling di dekat rumah di toko utama. Di warung pojok, tempat Ardi bawah, di deket gapura Bunga Rampai. Di deket kuburan juga kosong,” sebut Cahyani warga Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, dikutip dari Inibalikpapan.com--Jaringan Suara.com, Senin (8/8/2022).
Kenaikan gas elpiji non subsidi diduga menjadi sebab masyarakat beralih ke elpiji subsidi. Sehingga terjadi kesulitan atau kelangkaan dalam mendapatkan pasokan.
”Di mana aja langka, ini saya nyari sampe ke Dam dan daerah Gunung Kawi, di Antasari juga enggak dapat,” keluhnya.
“Itupun sudah sebulan beli di pangkalan harus pakai KTP,” ungkapnya.
Ia mengaku, untuk mendapatkan elpiji 3 kg di pengecer atau warung juga sulit diperoleh. Kalau pun ada jumlahnya terbatas dan harganya sudah naik tinggi.
”Harganya 35-40 ribu. Ada yang 45 ribu di Kebun Sayur. Temen saya abis beli. Dia jualan gorengan di deket SMP 2,” tuturnya.
Di pangkalan jalan Wijaya Kusuma, Kelurahan Gunung Sari Ilir, warga sudah mengantri padahal kendaraan yang mengantarkan gas elpiji 3 kg belum datang.
Situasi berbeda terjadi di Kelurahan Baru Ulu, kawasan Gunung Bugis. ”Saya beli di pengecer diantar 30 ribu kalau beli sendiri 25 ribu. Gak tau pengecekan cari dimana,” kata Rama.
Baca Juga: BBM Pertalite di Bogor Langka, Warga: Semuanya Kompak, Ini Sengaja Atau Bagaimana?
Terpisah, Area Manager Communication and CSR Regional Kalimantan, Susanto August Satria mengatakan, penyaluran gas elpiji 3 kilogram ke masyarakat seperti biasa. Tidak ada pembatasan.
Bahkan pada tanggal 3 dan 4 Agustus lalu, pihaknya sudah menambah 1-2 LO atau sama dengan : 560-1120 tabung LPG 3 kg.
Ia menyebutkan, realisasi elpiji 3 kg hingga Juni adalah 56.395 Metrikton dan kuota year to date Juni adalah 56.372 MT artinya sesuai kuota, namun over kuota sebesar 23 MT.
Menurutnya, saat ini juga terjadi pergeseran konsumsi. Sehingga mempengaruhi konsumsi masyarakat. “Ada konsumen gas elpiji Bright Gas yang berpindah menggunakan gas 3 kg atau gas bersubsidi,” ujarnya.
Ia menegaskan, gas 3 kg ini untuk rumah tangga diperuntukan ke masyarakat tidak mampu. Karena itu dihimbau yang mampu tetap menggunakan gas non subsidi.
Terhadap wilayah yang Kesulitan mendapatkan gas elpiji. Pihaknya kan melakukan pengecekan di lapangan. ”Kita coba cek ya di lapangan,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dana Ilegal Tidak Mengalir ke Perbankan, Kejati Sebut Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Dikembalikan
-
Pertamax Naik, Dapat Pertalite di Kota Minyak Semakin Sulit
-
Salahgunakan Pemberian KUR, Delapan Ibu-ibu di Samarinda Diamankan Kejaksaan
-
Kini Hindari Wawancara, Gaya Komunikasi Gubernur Rudy Mas'ud Jadi Sorotan
-
Diskominfo Kaltim Soroti Media Lokal Abaikan Kode Etik Demi Viralitas