-
Ekonomi Kaltim melambat pada awal 2025 akibat penurunan kinerja sektor pertambangan dan konstruksi, sehingga pertumbuhannya berada di bawah rata-rata nasional.
-
Penurunan ekspor batu bara dipicu melemahnya permintaan dari China dan India serta dampak kebijakan perdagangan Amerika Serikat, yang turut menekan aktivitas ekonomi daerah.
-
BI Kaltim tetap optimistis pemulihan ekonomi akan terjadi pada paruh kedua 2025, dengan dukungan proyek IKN dan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, serta lembaga keuangan.
SuaraKaltim.id - Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menilai tantangan perekonomian daerah pada awal 2025 masih cukup berat.
Dua sektor utama, yakni pertambangan dan konstruksi, mengalami perlambatan yang menahan laju pertumbuhan ekonomi hingga berada di bawah rata-rata nasional pada Triwulan I dan II tahun ini.
Namun, Kepala Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, tetap menyampaikan optimisme bahwa momentum perbaikan akan mulai terlihat pada paruh kedua 2025.
“Harapannya, di Triwulan III nanti Kaltim bisa kembali menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dua triwulan sebelumnya,” ujar Budi, disadur dari kaltimtoday.co--Jaringan Suara.com, Kamis, 30 Oktober 2025.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam acara Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kaltim yang digelar di Hotel Fugo, Samarinda, Rabu, 29 Oktober 2025.
Kegiatan ini mengusung tema “Menyelaraskan Prospek Ekonomi, Kapasitas Fiskal, dan Rencana Pembangunan Daerah” dan dihadiri oleh perwakilan instansi vertikal, OPD, perbankan, serta akademisi se-Kaltim.
Budi menargetkan pertumbuhan ekonomi Kaltim sepanjang 2025 tetap dapat berada di atas 5 persen, meskipun berbagai faktor global dan domestik menekan aktivitas ekonomi.
“Tahun ini memang penuh tantangan. Ada penurunan aktivitas di sektor konstruksi, kemudian di komoditas utama kita, yakni tambang. Selain itu, adanya pergeseran anggaran akibat penyelenggaraan Pilkada juga berdampak pada lambatnya realisasi pembangunan,” jelasnya.
Menurutnya, tekanan paling besar berasal dari penurunan kinerja pertambangan batu bara yang terdampak oleh kebijakan perdagangan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara, termasuk China.
Baca Juga: Bukan Ganti Guru, AI Justru Bantu Ciptakan Kelas yang Lebih Hidup
“Selain China, penurunan permintaan juga terjadi dari India, sehingga ekspor batu bara Kaltim ikut tertekan,” tambah Budi.
Perlambatan di sektor tambang dan konstruksi tersebut berimbas langsung terhadap kinerja ekonomi daerah.
Jika pada tahun sebelumnya Kaltim sempat tumbuh di atas 6 persen karena dorongan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dan tingginya harga batu bara, kini pertumbuhan di awal 2025 mengalami moderasi yang cukup nyata.
“Sekarang kita turun karena tambang dan konstruksi sama-sama melemah. Itu yang membuat pertumbuhan kita di awal tahun ini lebih rendah dibandingkan nasional,” tegasnya.
Meski begitu, BI Kaltim menilai fondasi ekonomi daerah masih kuat untuk kembali pulih.
Dengan kerja sama erat antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga keuangan, Budi optimistis pergerakan ekonomi Kaltim akan kembali menguat di Triwulan III dan IV.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
33,8 Juta Debitur Dilayani, BRI Perkuat Peran dalam Holding UMi
-
BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim
-
Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif
-
Kisah Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Bawa Cita Rasa Bubur Cirebon ke Taipei
-
Hadirkan BRImo Taiwan, BRI Raih Penghargaan Inovasi di IDX Channel 2026