-
Lebih dari 1.000 koperasi terlibat dalam Program Makan Bergizi Gratis, baik sebagai dapur penyedia hidangan (SPPG) maupun pemasok bahan pangan.
-
Pemerintah menyiapkan pembiayaan LPDB untuk memperkuat kapasitas produksi koperasi, termasuk peternakan dan komoditas pangan sesuai kebutuhan lapangan.
-
Penguatan koperasi produksi diharapkan menjaga kestabilan pasokan dan harga pangan, sehingga program MBG dapat berjalan berkelanjutan dan risiko inflasi dapat ditekan.
SuaraKaltim.id - Pemerintah menempatkan koperasi sebagai aktor utama dalam memastikan kelancaran rantai pasokan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono mencatat, saat ini sudah lebih dari 1.000 koperasi terlibat dalam program tersebut, baik sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun pemasok bahan baku.
Untuk memperkuat kemampuan produksi koperasi di sektor pangan, pemerintah menyiapkan dukungan permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Skema ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas budidaya sesuai kebutuhan dapur MBG di lapangan.
“Kalau SPPG butuh jutaan butir telur maka kapasitas peternakan harus disesuaikan. LPDB siap membiayai, tergantung nilai dan proposal bisnisnya,” ujar Ferry di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Kamis, 6 November 2025.
Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga membentuk tim gabungan antara Kementerian Koperasi dan Satgas MBG untuk memperkuat koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), terutama dalam penjaminan ketersediaan pasokan bahan pangan.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menilai dukungan dana bergulir ini menjadi kunci memperkokoh koperasi produksi sebagai penopang pasokan dapur MBG yang saat ini menghidangkan makanan bergizi bagi lebih dari 40 juta penerima manfaat.
“Dengan dukungan dana LPDB, koperasi-koperasi bisa memenuhi kebutuhan dapur MBG dan mengamankan pasokan pangan yang sangat dibutuhkan di lapangan,” kata Nanik.
Ia menambahkan, tercatat 14.229 SPPG beroperasi di seluruh Indonesia.
Baca Juga: PPU Siapkan Dapur MBG Ramah Lingkungan untuk Dukung Kawasan IKN
Semakin kuat koperasi produksi dalam mengelola komoditas pangan seperti telur, daging ayam, susu, hingga pisang, maka pasokan di pasar juga dapat semakin stabil.
“Jika pasokan melimpah, harga-harga bisa lebih terkendali dan risiko inflasi dapat diminimalkan,” ujarnya.
Nanik mencontohkan kebutuhan pisang untuk satu SPPG dengan 3.000 penerima manfaat membutuhkan kurang lebih 1,5 hektare lahan produksi.
Menurutnya, koperasi desa yang mengelola komoditas pisang memiliki peluang besar untuk mengambil peran pasokan tersebut secara berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Kejati Kaltim Sita Rp214 M, Amankan Puluhan Tas Branded dari Korupsi Transmigrasi
-
BRI Perkuat Program Rumah Rakyat, Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun pada 2026
-
Heboh Mobil Dinas Gubernur Kaltim di Tengah Efisiensi, Prabowo: Kita Selidiki Semua
-
Kritik Tajam Prabowo soal Mobil Dinas Rudy Mas'ud Rp8 M: Mobil Presiden Rp1 Miliar
-
Penumpang Arus Balik di Terminal Samarinda Melonjak Dibanding Arus Mudik