- Provinsi Kaltim bersama YKAN berupaya melindungi biodiversitas hutan.
- Kolaborasi ini mengelola bentang alam Wehea-Kelay di Kutai Timur hingga Berau.
- Sekitar 80 persen luas kawasan ini berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim.
SuaraKaltim.id - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berupaya melindungi biodiversitas hutan baik flora maupun fauna.
Kerjasama tersebut dilakukan dengan konsisten mengelola bentang alam Wehea-Kelay di Kabupaten Kutai Timur hingga Berau.
"Sekitar 80 persen dari luas kawasan Wehea-Kelay masih berupa hutan yang berpotensi menyimpan 191 juta ton CO equivalen, sehingga berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim," kata Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto dikutip dari Antara, Minggu (25/1/2026).
Kawasan ini ditentukan mengikuti sebaran orang utan Kalimantan, yaitu sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian kecil hulu Sungai Telen.
Selain menjadi habitat satwa langka, Wehea-Kelay merupakan hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Lebih dari 5.000 km daerah aliran sungai mengalir ke Kabupaten Berau dan Kutai Timur, memberikan jasa lingkungan seperti fungsi hidrologis dan udara bersih.
"Untuk itu, sejak 2015 Pemerintah Kaltim bersama YKAN juga mengajak berbagai pihak untuk mengelola kawasan ini. Bahkan, studi terakhir pada 2025 menunjukkan adanya penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal," katanya.
Ini berarti pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah memberikan dampak positif yakni kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dapat berjalan secara bersama-sama dengan menjaga nilai biodiversitas, salah satunya habitat orang utan yang berada di luar kawasan konservasi.
Menurut Herlina, selain fokus pada perlindungan ekosistem, pengelolaan kawasan juga mencakup pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi.
Sedangkan kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orang utan, ditemukan bahwa 11 di antaranya berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, seperti kandungan fitokimia untuk kesehatan, antidiabetes, antikanker, dan sitotoksisitas.
Jenis-jenis tumbuhan yang telah diteliti dan memiliki potensi medisinal serta nutrisi ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dengan mengoptimalkan potensi bioprospeksi.
Dalam perkembangan dari tahun ke tahun, pengelolaan Wehea-Kelay melibatkan 23 pihak mulai pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan LSM seperti YKAN.
"Dari sektor swasta, mayoritas merupakan pemegang konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan-Hutan Alam (PBPH-HA) dan telah mengantongi sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari serta Forest Stewardship Council (FSC). Selain itu, Hutan Lindung Wehea dikelola oleh Masyarakat Adat Wehea, menegaskan peran penting komunitas lokal," tegasnya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
Terkini
-
Kolaborasi Merawat Bentang Alam Wehea-Kelay untuk Mitigasi Perubahan Iklim
-
5 Mobil Bekas Andalan Toyota: Bandel, Irit dan Bertenaga Pilihan Keluarga
-
Kunci Jawaban Soal Perkalian dan Pembagian Bilangan Bulat Kelas VII Halaman 20
-
5 Mobil Bekas buat Rombongan Muat hingga 9 Orang, Harga di Bawah 100 Juta
-
5 Mobil Bekas 7-Seater Nyaman untuk Pensiunan dan Lansia, Harga 100 Jutaan