- Tim Ahli Gubernur Kaltim diminta fokus membenahi kebijakan Rudy Mas'ud dan Seno Aji.
- Akademisi menilai pernyataan orang dekat Gubernur itu cenderung mengecilkan substansi kritik.
- Ada tiga poin yang menjadi sorotan dosen Universitas Mulawarman jelang aksi 21 April nanti.
SuaraKaltim.id - Menjelang demo 21 April nanti, tim ahli Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) menuai sorotan tajam usai pernyataannya setelah pernyataannya melarang kebijakan Rudy Mas'ud.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah Hamzah, menilai narasi yang dibangun orang di sekeliling Gubernur Rudy Mas'ud justru cenderung mengecilkan substansi kritik.
"Standing mereka adalah standing-nya Gubernur, corongnya Gubernur, perpanjangan tangannya Gubernur. Ya jangan heranlah dengan pernyataan-pernyataan yang memang seolah-olah menjadi reaksi timbal balik dari Gubernur," katanya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com.
Menurut pria yang akrab disapa Castro, terdapat tiga poin utama yang menjadi perhatian.
Pertama, Herdiansyah menganggap wajar jika para tim ahli melakukan pembelaan karena mereka memang dibayar untuk menjadi perpanjangan tangan dan corong kepentingan Gubernur. Namun, ia menekankan pentingnya profesionalitas dalam menjalankan tugas tersebut.
Kedua, tim ahli dinilai tidak tepat karena lebih sibuk mengomentari metode aksi unjuk rasa dibandingkan menjawab substansi kritik yang dilemparkan masyarakat.
Herdiansyah menegaskan bahwa sebagai ahli yang dibayar sesuai bidangnya, mereka seharusnya memberikan kontra narasi yang bersifat substansial untuk menanggapi poin-poin permasalahan yang ada di lapangan.
"Harusnya mengomentari isi kritik dari publik, substansinya yang paling penting, bukan soal metode dan aksi unjuk rasa di tanggal 21 itu," tegasnya.
Ketiga, narasi yang menarik-narik rencana aksi 21 April sebagai bagian dari kelompok yang "tidak bisa move on" dari Pilgub Kaltim dianggap sebagai langkah yang keliru.
Menurutnya, terlepas dari siapa pun pelakunya, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berposisi sebagai oposisi terhadap pemerintahan terpilih.
Herdiansyah justru memandang bahwa keberadaan oposisi sangat krusial bagi kesehatan demokrasi di tingkat lokal.
Ketidakpahaman lingkaran Gubernur terhadap pentingnya oposisi dinilai dapat menghambat kualitas pengawasan publik.
"Kalau kita sedikit paham dengan soal demokrasi itu, kita bahkan butuh oposisi. Jadi kalaupun mereka yang kalah di Pilgub kemarin kemudian memilih sebagai bagian dari oposisi terhadap pemerintahan, bukankah itu justru sebagai hal yang menyehatkan?" tegas Herdiansyah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut
-
Kebakaran Lahan di Tol Samarinda-Balikpapan, Petugas Terkendala Pasokan Air