- Sejumlah advokat publik mendatangi Kantor Gubernur Kaltim.
- Mereka menilai pembentukan Tim Ahli Gubernur cacat hukum.
- Para pengacara ini lantas menyampaikan tiga poin tuntutan.
SuaraKaltim.id - Sejumlah advokat publik mendatangi Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) memprotes pembentukan Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP).
Para pengacara publik tersebut menyampaikan keberatan dan menilai Tim Ahli Gubernur Kaltim cacat hukum.
Advokat publik, Dyah Lestari menyampaikan surat keberatan kepada Gubernur Rudy Mas'ud terkait terbitnya Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan tim ahli gubernur tersebut.
"Jika kita perhatikan, tanggal penetapan SK adalah 19 Februari 2026. Namun, dalam SK tersebut dinyatakan mulai berlaku sejak 2 Januari 2026," ucapnya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com, Senin (27/04/2026).
Dalam prinsip hukum, kata dia, suatu produk peraturan tidak boleh berlaku surut, kecuali dalam kondisi tertentu seperti keadaan darurat atau bencana. Sementara dalam konteks ini, tidak terdapat kondisi darurat maupun bencana.
Dyah bersama belasan advokat lainnya, menyampaikan poin tuntutan tersebut sebagai bentuk kontrol masyarakat dan keterbukaan publik.
"Jika terdapat kekeliruan, maka harus dibetulkan. Jika terdapat kesalahan, maka harus dibatalkan dan dibentuk surat keputusan (SK) yang baru," imbuhnya.
Hal ini penting agar tidak menimbulkan kerugian negara yang berpotensi mengarah pada tindak pidana korupsi, terutama jika anggaran honorium TAGUPP tersebut tidak dikembalikan ke kas daerah.
Dyah menegaskan bahwa para advokat yang menyuarakan keberatan di kantor gubernur, murni praktisi hukum tanpa ada embel-embel politik.
"Sebelumnya memang banyak pihak yang ingin bergabung, namun ketika diketahui mereka merupakan bagian dari tim sukses, baik dari pihak mana pun, kami tegas menolak. Tim ini harus steril, tanpa agenda politik apa pun," tegasnya.
Di depan kantor Gubernur Kaltim, para advokat menyampaikan tiga poin tuntutan yang harus ditindaklanjuti oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud.
Adapun tuntutan kepada Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud adalah sebagai berikut:
1. Mendesak Gubernur untuk segera membatalkan SK Nomor 100.3.3.1/K.9/2026 tentang pembentukan tim ahli gubernur yang ditetapkan pada 19 Februari 2026.
2. Meminta seluruh tim ahli gubernur percepatan pembangunan Kalimantan tahun 2026 untuk mengembalikan seluruh honorarium yang telah diterima ke kas daerah, karena SK yang menjadi dasar dinilai bermasalah dan tidak sah.
3. Mendesak Gubernur untuk membubarkan tim ahli tersebut, mengingat proses pembentukannya dinilai cacat hukum secara substansi dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
33,8 Juta Debitur Dilayani, BRI Perkuat Peran dalam Holding UMi
-
BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim
-
Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif
-
Kisah Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Bawa Cita Rasa Bubur Cirebon ke Taipei
-
Hadirkan BRImo Taiwan, BRI Raih Penghargaan Inovasi di IDX Channel 2026