Eko Faizin
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:45 WIB
Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. [Ist]
Baca 10 detik
  • Jumlah penumpang Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan turun menjadi 9.000-11.000 orang per hari akibat lonjakan harga tiket pesawat.
  • Kenaikan harga tiket disebabkan meroketnya harga avtur global yang berdampak pada mahalnya biaya operasional seluruh maskapai penerbangan.
  • Masyarakat umum kini beralih menggunakan transportasi laut, sementara pihak bandara tetap menargetkan 5,3 juta penumpang hingga akhir 2026.

SuaraKaltim.id - Jumlah penumpang Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, dilaporkan mengalami penurunan cukup tajam.

General Manager Bandara Sepinggan Balikpapan, R Iwan Winaya Mahdar mengungkapkan bahwa biang kerok utama dari sepinya bandara adalah lonjakan harga tiket pesawat yang kian mahal.

"Ada kenaikan rata-rata Rp700 ribu sampai dengan Rp800 ribu untuk harga tiket," ungkapnya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com.

Iwan menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam forum diskusi penerbangan Kaltim di tengah sentimen melemahnya nilai tukar rupiah, Jumat (12/6/2026).

Dia menyampaikan, jumlah pergerakan penumpang yang biasanya mampu menembus angka 14.000 hingga 15.000 orang per hari, kini merosot ke kisaran 9.000 hingga 11.000 orang saja per hari.

Mahalnya tarif terbang ini merupakan imbas langsung dari meroketnya harga bahan bakar pesawat (avtur) di tingkat global.

Sebagai gambaran nyata, tiket untuk rute gemuk seperti Balikpapan menuju Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) yang dulunya bisa ditebus seharga Rp1,1 juta, kini melonjak drastis ke angka Rp1,7 juta hingga Rp2 juta per orang.

Kenaikan tarif ini tidak hanya memukul rute tujuan ibu kota, tetapi juga ikut merembet ke jalur penerbangan padat lainnya, seperti rute Balikpapan-Surabaya dan Balikpapan-Yogyakarta.

Warga Biasa Pilih Kapal Laut

Iwan menjelaskan, dengan kondisi harga yang melambung tinggi seperti sekarang, mayoritas penumpang yang bertahan menggunakan jalur udara didominasi oleh para aparatur yang melakukan  perjalanan dinas serta para pekerja korporasi.

Sementara itu, masyarakat umum yang keberatan dengan harga tiket pesawat dilaporkan mulai beralih massal ke moda transportasi laut.

Berdasarkan data manifes pelabuhan lokal, tercatat ada lonjakan jumlah penumpang kapal laut yang cukup signifikan, yakni berkisar antara 30 hingga 40 persen.

Terkait keluhan masyarakat mengenai mahalnya harga tiket ini, Iwan menegaskan bahwa pihak Angkasa Pura atau otoritas bandara sama sekali tidak memiliki intervensi hukum untuk mengatur tarif penerbangan.

"Untuk penetapan harga tiket adalah kewenangan maskapai. Kami dari sisi airport tidak punya kendali terkait dengan harga tiket tersebut," jelasnya.

Perlu diketahui, komponen biaya bahan bakar avtur memegang peranan paling besar dalam operasional penerbangan, yakni mencapai sekitar 40 persen dari formulasi harga tiket.

Load More