"Biar kantor yang mengatasi, kalau gini kita bisa rugi terus. Saya percayanya karena ngaku polisi disini (Polsek Samarinda Kota). Nanti mau melapor sama orang kantor," tukas Dedi.
Usut punya usut, dari informasi yang dihimpun, orderan fiktif dan penipuan ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi. Dengan modus dan titik pengantaran serupa, setidaknya sudah ada 35 ojol berjaket kuning yang tertipu.
Hal itu terungkap setelah Soleh dan Dedi yang merupakan driver ojol dibawah satu naungan aplikasi sama, mengkonfirmasi kejadian itu ke kantor perwakilan mereka di Samarinda.
"Sudah 35 orang totalnya kalau digabungin sama kita kata kantor perwakilan," tambah Dedi.
Apa yang diungkapkan Dedi inipun sesuai data yang dimiliki media ini. Kasus penipuan melalui orderan fiktif juga dialami oleh seorang driver ojol berjaket kuning, tepatnya Senin (21/9/2020) lalu.
Oknum customer itu diduga orang yang sama.
Lantaran mengaku sebagai anggota polisi Polsek Samarinda Kota dengan nama yang telah disebutkan diatas. Selain itu, setiap pesanan yang diminta kepada ojol selalu sama. Dengan modus meminta pesanan tambahan berupa pulsa. Setelah korban sadar telah tertipu, pelaku akan langsung memblokir nomor korbannya.
Salah satu driver ojol yang menjadi korban sebelumnya itu bernama Rustam (28). Kepada media ini, kala itu Rustam mengaku tertipu dengan oknum pengorder tersebut.
Setelah orderan masuk ke aplikasinya. Oknum customer yang mengaku sebagai polisi itu, meminta dibelikan air mineral berukuran besar, minuman kemasan berenergi, serta beberapa makanan ringan.
“Saya baru sampai di Taman Samarendah, oknum tersebut meminta dibelikan pulsa Rp 50 ribu, tetapi saya bilang tidak ada konter dekat sini," ucap Rustam ketika ditemui di Polsek Samarinda Kota di Jalan Bhayangkara pada Senin (21/9/2020) lalu.
Rustam sempat curiga ketika oknum tersebut tidak mengangkat telpon darinya.
“Sampai di Polsek, saya telpon, tetapi nomornya langsung dimatikan, kemudian saya telpon lagi tidak diangkat,” ujar Rustam.
Ia juga menambahkan, orderan tersebut diterimanya ketika melihat foto profilnya pengorder tersebut berseragam polisi. “Memakai seragam foto profilnya, perawakannya itu tinggi putih. Tetapi, tidak lama fotonya dihapus,” ucapnya menjelaskan ciri-ciri oknum pengorder fiktif.
Akibat orderan fiktif tersebut Rustam hanya bisa pasrah. Ia mengalami kerugian Rp 52 ribu, namun uang itu bisa menjadi bekal dirinya sebagai tambahan dana ketika di perjalanan.
“Iya walau segitu (Rp 52 ribu), bisa untuk bensin saya kan. Untung saja ada ibu kantin di Polsek yang mau beli, mengganti kerugian orderannya,” pungkasnya.