alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

KPPU Kanwil V Pantau Obat Terapi dan Oksigen di Kaltim. Ini Hasilnya

Denada S Putri Minggu, 01 Agustus 2021 | 13:53 WIB

KPPU Kanwil V Pantau Obat Terapi dan Oksigen di Kaltim. Ini Hasilnya
Ilustrasi obat. [Pinterest]

Pendataan harus dilakukan Diskes kabupaten/kota se-Kaltim

SuaraKaltim.id - Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kantor Wilayah (KPPU Kanwil)  V memantau obat dan oksigen 1m3 pada Juli ini. Hasilnya, KPPU berhasil mengumpulkan data dari beberapa apotek dan toko alat kesehatan di seluruh provinsi di Kalimantan, puskesmas, distributor perusahaan besar farmasi (PBF) di Balikpapan dan Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim.

Manaek SM Pasaribu, Kepala Kanwil KPPU Wilayah V menyebut, di pekan pertama sampai pekan ketiga Juli, tersedia tiga jenis obat terapi Covid-19. Yakni azithromycin, favipiravir dan oseltamivir. Kelangkaan obat terjadi karena distribusi obat difokuskan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kemudian di 27 Juli 2021, KPPU Kanwil V menemukan ketersediaan obat terapi Covid-19 di Kalimantan hanya ada lima jenis obat. Yaitu azithromycin, favipiravir, ivermectin, oseltamivir dan tocilizumab, dimana obat itu hanya ada di Samarinda dan Pontianak.

“Tocilizumab hanya ada di fasyankes yang dialokasikan langsung untuk pasien Covid-19. Dengan jumlah stok yang sangat terbatas dan berebut. Ini keterangan dari Diskes Kaltim,” terangnya yang dilansir dari Presisi.co--Jaringan Suara.com, Minggu (01/08/2021).

Baca Juga: 2 Kriteria Sembuh Covid-19 dan Hal yang Perlu Dilakukan Setelah Isoman

Untuk obat yang susah didapatkan saat ini, lanjut Manaek, adalah remdesivir. Penyebabnya lantaran bahan baku yang harus diimpor. Juga immunoglobulin yang disebutkan memiliki keterbatasan stok di e-katalog obat. Di Kalimantan, obat terapi Covid-19 ini tidak ditemukan di marketplace.

Hanya ada 2 stok obat di Balikpapan, dengan jumlah terbatas

Berdasarkan hasil survei ke beberapa distributor atau PBF di Balikpapan, saat ini stok obat yang dimiliki hanya azithromycin dan favipiravir dengan jumlah terbatas. Itu karena, kapasitas produksi tak seimbang dengan kebutuhan konsumen.

“PBF melayani setiap pembelian yang diajukan apotek ataupun fasyankes. Tidak ada sistem blocking pemesanan obat. Namun saat ini yang sering memesan hanya fasyankes,” papar Manaek.

Pendataan kebutuhan obat wajib di data Diskes Kabupaten/Kota se-Kaltim

Baca Juga: Percepat Cakupan Vaksinasi, Suntik Vaksin Covid-19 Dilakukan Door to Door

KPPU Kanwil V telah berkoordinasi dengan Diskes Kaltim. Bahwa pengadaan obat difokuskan untuk fasyankes. Setiap Diskes kabupaten/kota se-Kaltim diminta mendata kebutuhan obat yang kemudian disetorkan kepada Diskes Kaltim. Selanjutnya, Diskes Kaltim akan meminta pasokan obat kepada Kemenkes.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait