alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Konsultasi Psikologis Sering Dicap Negatif, Iman Hanggautomo: Sama Pentingnya dengan Fisik

Denada S Putri Senin, 11 Oktober 2021 | 17:10 WIB

Konsultasi Psikologis Sering Dicap Negatif, Iman Hanggautomo: Sama Pentingnya dengan Fisik
Ilustrasi konsultasi kesehatan jiwa. [Istimewa]

Di Tanah Air kini sudah tersedia banyak platform untuk melakukan konsultasi psikologis via daring.

SuaraKaltim.id - Konsultasi psikologis dibayangi stigma kurang baik hingga kini. Pembicaraan kesehatan jiwa masih dianggap tabu di beberapa negara, atau wilayah. Bahkan yang melakukan bisa dicap negatif.

Momen Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober menjadi waktu yang pas untuk mengkampanyekan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Melansir dari Suara.com, Iman Hanggautomo, pendiri KALBU sebuah platform online untuk kesehatan mental masyarakat menjelaskan, di Indonesia terdapat beberapa kelompok yang rentan terhadap dampak pandemi Covid-19 bagi kesehatan jiwa. Di antaranya, kelompok usia dini seperti anak dan remaja, kalangan pekerja terutama mereka yang kehilangan pekerjaan dan kurang penghasilan, serta orang tua dan pasangan yang diharuskan terlalu sering bersama karena adanya pembatasan kegiatan.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keluhan kesehatan mental bahkan dapat memicu munculnya masalah pada kesehatan fisik. Seperti halnya fisik yang sakit harus diobati, maka mental yang sakit juga harus mendapatkan penanganan dari para ahlinya. Misalnya, melalui konsultasi dan terapi,” tegasnya, dikutip Senin (11/10/221).

Baca Juga: Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Ini Tips Psikolog agar Tetap Sehat Mental

Ia menambahkan, di Tanah Air kini sudah tersedia banyak platform untuk melakukan konsultasi psikologis via daring. Layanan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

“Kita harus menghilangkan stigma negatif tentang konsultasi psikologis, bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang tabu. Oleh karena itu, edukasi pentingnya kesehatan mental juga harus ditingkatkan sejak dini, misalnya dengan menyisipkan pendidikan tersebut ke dalam pelajaran sekolah,” tuturnya.

Menurutnya, efek pandemi terhadap peningkatan masalah kesehatan mental di Bumi Pertiwi, bisa dilihat dari jumlah konsultasi di psikolog. Di mana, jumlah tersebut mengalami peningkatan sekitar 3 kali lipat dari sebelumnya.

Menyadari pentingnya dukungan terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Buku Panduan tentang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2021. Di dalam buku panduan tersebut dijelaskan tujuan memperingati HKJS, yakni guna meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa. Terlebih, di masa seperti sekarang ini, pandemi COVID-19 memberikan dampak besar bagi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku tersebut menyebutkan data yang menunjukkan bahwa di masa pandemi COVID-19 terdapat kenaikan kasus depresi dan ansietas. Diketahui lebih dari 60 persen orang mengalami gejala depresi, lebih dari 40 persen mengalami disertai ide bunuh diri. Diperkirakan sekitar 32,6 persen-45 persen penduduk yang terkena COVID-19 mengalami gangguan depresi, sedangkan 10,5 persen-26,8 persen penyintas COVID-19 mengalami gangguan depresi.

Baca Juga: Hits Health: Adele Bongkar Rahasia Kurus, Dr Ali Sungkar Meninggal Dunia

Selama pandemi lebih dari 60 persen orang mengalami gejala ansietas dan lebih dari 70 persen orang mengalami gangguan stres pasca trauma. Bahkan ketika berstatus positif COVID-19, sekitar 35,7 persen-47 persen orang mengalami gangguan ansietas, serta 12,2 persen mengalami gangguan stres pasca trauma. Sementara itu, bagi penyintas COVID-19 sekitar 12,3 persen-29,6 persen terkena gangguan ansietas, 25,1 persen-32,2 persen mengalami gangguan stres pasca trauma dan insomnia sebanyak 12,1 persen. Kemudian, seluruh penyintas COVID-19 diketahui mengalami gangguan tidur.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait