facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Nenek Aisyah di Kukar, Pergi Haji dari Hasil Menabung Rp 5 ribu Sehari Sejak 1995

Denada S Putri Rabu, 29 Juni 2022 | 14:33 WIB

Kisah Nenek Aisyah di Kukar, Pergi Haji dari Hasil Menabung Rp 5 ribu Sehari Sejak 1995
Tangkapan layar video. [Instagram/@info_etam]

"Liat orang naik haji itu menangis, saya juga ingin naik haji. Jadi memang sudah diniatkan untuk berangkat haji," ujarnya.

SuaraKaltim.id - Melakukan ibadah haji ke Tanah Suci, biasanya dilakukan tiap bulan haji atau bulan Zulhijah. Menunaikan ibadah haji juga masuk dalam Rukun Islam, khususnya yang ke-5.

Ibadah haji merupakan kewajiban bagi umat muslim apabila mampu dari segi fisik ataupun biaya. Seperti kisah seorang nenek di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).

Namanya Aisyah, usianya kini 53 tahun. Dia mengaku sudah menabung sejak 25 tahun lalu. Tiap hari dia mengaku menabung senilai Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Kisah Aisyah ini diunggah oleh salah satu akun informasi @info_etam, Rabu (29/6/2022).

"Nabung Rp5.000 sampai Rp10.000. Uangnya masukan di kaleng mulai tahun 1995," ungkapnya, melansir dari keterangan tertulis admin, di hari yang sama.

Baca Juga: Bocah Putus Sekolah Demi Bantu Mama Jualan, Kisahnya Disorot: Semoga Besarnya Sukses

Dari tahun itu, wanita yang lahir di 1969 ini berprofesi sebagai penjual sayur keliling di Kota Raja. Sayur yang dia dagangkan dibawa pakai sepeda ontel yang sudah dimodifikasi.

Untuk sisi kiri dan kanan serta bagian belakang sepeda, dibuatkan wadah seperti keranjang berbentuk persegi 4 untuk memuat dagangannya. Varian sayur yang dia jual pun beragam, seperti bayam, tomat, kangkung, sawi, dan cabai.

Dari keterangan admin juga, ternyata sayur yang dijual nenek tersebut berasal dari hasil panen tanamannya sendiri. Bahkan katanya itu cuma sayur seadanya saja yang dia tanam.

"Menanam (sayur) seadanya aja untuk dijual. Tanahnya (untuk menanam sayur) numpang sama orang," katanya.

Masih dari keterangan admin, nenek Aisyah mengaku alasan dirinya berjualan sejak tahun tersebut karena dia memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang tua. Karena saat itu, sang suami sudah meninggal dunia lantaran sakit.

Baca Juga: Pintu Lift Terbuka Sendiri, Wajah 3 Perempuan Ini Pucat Pasi

Dua orang anak perempuannya kala itu masih kecil. Mereka membutuhkan biaya untuk hidup. Itulah alasan dirinya berjualan sayur di awal.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait