Menurut legenda yang hidup dikalangan orang Bahau, di zaman dahulu diceritakan nenek moyang mereka berasal dari Sungai Bram di Brunai.
Kemudian karena ada peperangan dengan orang Iban, orang Bahau pindah menuju Sungai Kayan atau ke Apo Kayan dan sebagian ke Hulu Mahakam.
Dengan alasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, sebagian dari mereka kemudian pindah ke Long Merah, hingga sampai di Sungai Belayan Muara Keba pada tahun 1995.
Dalam cerita yang berkembang, perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu dua hari dua malam dan setiap rombongan yang bermigrasi, kurang lebih ada sekitar 40 orang.
Baca Juga:Ngawat, Prosesi Meminta Bantuan pada Roh dalam Upacara Belian Bawo
Perjalanan yang mereka tempuh pun tidak mudah karena melalui hutan belantara dan sepanjang aliran sungai hingga tidak jarang anggota rombongan yang menderita sakit.
Saat ini, suku Dayak Bahau ini hidup berbaur dengan suku bangsa lainnya dan mengembangkan kerukunan hidup yang baik karena banyak di antara mereka yang menikah antar budaya.
Kendati demikian, identitas Bahau tetap mereka pertahankan, bukan saja dalam bahasa, tetapi dalam melestarikan tradisi nenek moyangnya.
Kontributor : Maliana
Baca Juga:Sejarah dan Asal Usul Nama Suku Dayak Tunjung, Disebut Jelmaan Para Dewa