Scroll untuk membaca artikel
Sapri Maulana
Rabu, 31 Maret 2021 | 10:39 WIB
Visualisasi desain Garuda untuk Istana Negara di Kalimantan, tempat Ibu Kota baru. [Akun Twitter @sociotalker]

SuaraKaltim.id - Sejumlah asosiasi arsitek mengkritik desain Istana Negara di ibu kota negara (IKN) di Kalimantan Timur. Menurut mereka, dari segi bidang arsitektur, desain yang ditampilkan tidak mencirikan kemajuan peradaban.

Asosiasi yang mengkritik ialah Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

“Bangunan istana negara yang berbentuk burung Garuda atau burung yang menyerupai Garuda merupakan simbol yang di dalam bidang arsitektur tidaklah mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital dengan visi yang berkemajuan, era bangunan emisi rendah dan pasca COVID-19 (new normal),” kata mereka, melalui siaran pers tertulis, yang diterima SuaraKaltim.id, belum lama ini.

“Bangunan gedung istana negara seharusnya merefleksikan kemajuan peradaban/budaya, ekonomi dan komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan negara Indonesia dalam partisipasinya di dunia global,” sambungnya.

Baca Juga: Desain Istana Negara di IKN, Asosiasi Arsitek Ingatkan Pelibatan Masyarakat

Bangunan gedung istana negara, kata gabungan asosiasi tersebut seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi hingga pemeliharaan gedungnya.

Pada poin kesembilan, mereka memaparkan, metafora terutama yang dilakukan secara harfiah dan keseluruhan dalam dunia perancangan arsitektur era teknologi 4.0 adalah pendekatan yang mulai ditinggalkan karena ketidakampuan menjawab tantangan dan kebutuhan arsitektur hari ini dan masa mendatang.

Metafora hanya mangandalkan citra, yang dilakukan secara keseluruhan dapat diartikan secara negatif dikaitkan dengan anatomi tubuh yang dilekatkan dalam metafor.

Metafora harfiah yang direpresentasikan melalui gedung patung burung tersebut tidak mencerminkan upaya pemerintah dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan.

Pada poin kesepuluh, gabungan asosiasi merekomendasikan:

Baca Juga: Istana Negara Garuda: Filosofi, Perancang, hingga Kritik

 “Istana versi burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu yang menjadi tengaran (landmark) pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana.

Load More