SuaraKaltim.id - Aktivitas tambang batu bara di sekitar Sungai Santan, Kecamatan Marang Kayu, Kutai Kartanegara (Kukar) disinyalir menjadi penyebab fauna endemik, Kerang Kepah punah di wilayah tersebut.
Kerang sungai berukuran besar ini dahulu menjadi fauna di ekosistem itu. Saat jumlahnya melimpah, kerang ini menjadi santapan khas warga Desa Santan Tengah.
Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Santan, merupakan salah satu bagian dari DAS Karangan dengan panjang sungai 78,0 km yang membentang dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Kukar.
Di 1980 hingga 2000-an, sebelum akses jalan raya menghubungkan Desa Santan, mayoritas penduduk memanfaatkan sungai sebagai moda transportasi air untuk mengangkut hasil pertanian. Seperti kelapa, kakao, kopi, koprah, pisang dan hasil bumi lainnya ke Samarinda dan Bontang.
Ketua Tani Muda Santan, Taufik Iskandar menjelaskan, Sungai Santan menjadi bagian dari kebudayaan warga sejak lama. Ini terlihat dari bentuk rumah warga yang menghadap ke sungai. Sungai yang mengalir dari hulunya berada dikawasan Taman Nasional Kutai dan Muaranya ke Selat Makassar.
Ia menyebutkan, hubungan erat warga setempat dengan sungai pelan-pelan pudar sejak lingkungannya rusak. Aktivitas perusahaan tambang sejak 1997 lalu disebut-sebut menjadi faktor utama DAS Santan dan ekosistemnya hancur.
Ia bahkan merinci, akibat dari eksplorasi tambang di hulu, mengakibatkan perubahan tata air daerah sekitar, semakin keruhnya air permukaan di sekitar lokasi pertambangan, serta menurunnya kualitas air sungai.
Proses tersebut dalam jangka panjang akan menyebabkan pendangkalan alur sungai, yang menimbulkan banjir di tiga desa santan ulu, tengah dan ilir. Hingga hilangnya ruang ekonomi nelayan sungai, karena hasil tangkapan semakin berkurang.
"Semenjak dijadikannya Sungai Santan sebagai media pembuangan air dari settling pond limbah penambangan batubara yang disalurkan ke badan sungai santan, tercatat sudah 11 orang tewas diterkam buaya. Karena habitat buaya tercemar, kondisi ini terjadi karena hulu sungai santan yang seharusnya menjadi kawasan penyangga berubah menjadi tempat kegiatan pengerukan pertambangan," bebernya, dikutip dari KlikKaltim.com--Jaringan Suara.com, Selasa (28/9/2021)
Baca Juga: Tragis, Bayi Pesut Mahakam Berjenis Kelamin Jantan Ditemukan Mati di Kukar
Usaha untuk mengkonfirmasi ke pihak perusahaan, yakni PT Indominco Mandiri sudah dilakukan. Melalui staf eksternalnya, Yulianus. Namun, perusahaan enggan berkomentar terkait pernyataan yang disuarakan Tani Muda Santan.
"Manajemen tidak mau berkomentar mas," tandasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Kronologi Pembunuhan di Speedboat Samarinda, Jasad Diikatkan ke Batu dan Tiang Jembatan
-
Demo di Kaltim Memanas, Massa Lempar Sayuran Busuk ke Kantor Rudy Mas'ud
-
Remaja 13 Tahun asal Samboja Jadi Korban ke-57 Tewas di Lubang Tambang
-
Daftar 3 Prajurit TNI Gugur, Korban Helikopter Jatuh saat Padamkan Karhutla
-
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Kecelakaan Helikopter saat Misi Karhutla di Kalteng