Konstelasi membuka peluang merebut perusahaan minyak Balikpapan, yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij atau BPM, yang dimiliki oleh pemodal Inggris dan Belanda.
Ketegangan antardua negara tersebut pun membuat Perbum mengambil sikap. Organisasi sayap PKI tersebut memaksa pemerintah untuk saham Belanda di BPM. Ketika perseteruan Inggris dan Belanda, orang-orang Belanda yang berada di Balikpapan kembali ke negara mereka, dan posisi mereka digantikan orang-orang dari Inggris, Amerika, serta Perancis. BPM pun di bawah penguasaan Shell, dan pemegang saham BPM adalah Inggris dan Belanda.
Di 1963, Front Nasional bersitegang dengan Shell. Semangat untuk melakukan nasionalisasi perusahaan asing terus menggebu-gebu usai Presiden Soekarno membuka konfrontasi dengan Inggris. Kala itu, Soekarno menolak pendirian Malaysia yang disebut boneka Amerika dan Inggris.
Kemudian, Hario Kecik dan Fachrul Baraqbah mengatur strategi dalam menentang penanaman modal asing di tanah air. Setelah rencana itu selesai disusun, mereka memboikot seluruh orang-orang Inggris yang bekerja untuk Shell di Balikpapan.
Sebanyak 5 ribu buruh minyak terlibat dalam pemboikotan tersebut. Mulai dari sopir hinGga staf, tidak berbicara kepada orang Inggris. Perbum juga berinisiatif membuat sebuah terror
Sementara Hario Kecik membuat peraturan melarang penggunaan bahasa Inggris. Dan mengharuskan bahasa Indonesia untuk mengawasi seluruh aktivitas orang asing.
Akhirnya Shell berhasil diambil alih oleh koalisi buruh yang didominasi Perbum. Aset-aset perusahaan dikuasai dengan alasan menyelamatkan produksi minyak untuk kepentingan Nasional.
Perbum juga menguasai salah satu toko serba ada bernama Sifo milik Shell di Balikpapan. Mereka menyatakan menunggu kebijakan dari Presiden Sukarno. Kelak pemerintah Indonesia menasionalisasi Shell yang sekarang menjadi Pertamina.
Dua tahun kemudian, kekuatan PKI, Perbum, serta Front Nasional mulai pudar. Tatkala Kolonel Suhario yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno disekolahkan ke Uni Soviet.
Baca Juga: Sejarah Peristiwa Gerakan 30 September 1965 dalam Berbagai Versi
Sementara di Jakarta dan Jogjakarta, peristiwa 30 September 1965 dihari ini tepat 56 tahun lalu, mengubah semuanya. Penculikan para Jendral Angkatan darat yang berujung pada pembersihan para petinggi PKI serta organisasi sayap mereka dituntaskan.
Seluruh pengurus partai PKI di Kaltim, kala itu langsung diringkus oleh aparat keamanan. Tak terkecuali Ketua PKI yang saat itu dipimpin, Sayid Fachrul Baraqbah dan membuat karier politiknya harus berakhir.
Kontributor: Apriskian Tauda Parulian
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
Pilihan
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
-
MBG Makan Korban Lagi, Siswa SD Lampung Meninggal Tersedak Menu Kelengkeng
Terkini
-
Potret Indonesia dari Dekat, BRI inFrame 2026 Rekam Kisah Ekonomi Kerakyatan
-
Danamon Travel Fair Hadir Kembali, Raih Promo Hemat hingga 70%
-
254 Penerbangan di Kalimantan Terganggu Akibat Kabut Asap Karhutla
-
Karhutla Kaltim: Hotspot Naik 2 Kali Lipat, Asap Berasal dari Kebakaran Lokal
-
Di Tengah Gaung Erau dan IKN, Guru Kukar Didorong Adaptif Terhadap Teknologi