“Insyaallah semester 2 kami akan menggelar PTM secara langsung. Full. Insyaallah siap. Tahun depan kami jalankan semuanya. Mudah-mudahan akhir Desember sudah mendekati 90 persen,” ungkapnya.
Ketika ditanya apakah konsep pembelajaran masih mengkombinasikan antara daring dan luring, Anwar mengatakan semua akan dilakukan full di sekolah yakni luring.
“Kami berharap Januari 2022 nanti sudah tidak ada Covid-19 lagi. Makanya bayangan saya di Januari kami akan full untuk tatap muka. Kalau uji coba kan udah. Terutama di Balikpapan, Bontang, dan Berau,” lanjutnya.
Optimisme itu yang memberanikan pihaknya untuk menggelar PTM 100 persen secara langsung di sekolah. Ia menyebut, kerja sama dengan berbagai pihak seperti BIN, TNI-Polri, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim untuk menggenjot capaian vaksinasi terus dilakukan. Hal itu disebutnya menjadi salah satu upaya Pemprov Kaltim demi menyambut PTM pada awal tahun depan.
Gubernur Kaltim, Isran Noor ketika dikonfirmasi pada Senin (29/11/2021) tak berkomentar banyak. Ia mengungkapkan bahwa PTM untuk tingkat SMA/SMK sedang dipersiapkan.
Pihaknya juga masih terus mengevaluasi. Isran juga mengaku waspada mengingat Covid-19 varian baru yakni Omnicron sudah muncul di beberapa negara lain.
“Kami akan evaluasi. Kami ingin capaian vaksinasi minimal harus 70 persen untuk guru dan siswa. Kalau enggak, ya jangan. Risiko,” bebernya singkat.
Belajar Daring Berdampak Negatif
Psikolog klinis sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani juga memberikan tanggapannya terkait pembelajaran daring. Secara umum, ujar Ayunda, pembelajaran daring yang terus-menerus memang membawa dampak. Beberapa waktu lalu, pemerintah sempat menginstruksikan untuk digelarnya PTM terbatas. Sebagai langkah demi meminimalisasi dampak lanjutan.
Baca Juga: Gubernur Isran Noor Mau Nyapres, Warganet Ramai Tanyakan Jalan Rusak dan Tambang Ilegal
“Pembelajaran jarak jauh atau secara daring yang terlalu lama ini dikhawatirkan menimbulkan dampak serius dari sisi psikis maupun akademis,” ungkapnya.
Dari sisi akademis, misalnya. Mampu memicu learning loss, akni kompetensi-kompetensi yang seharusnya dicapai oleh siswa jadi terlambat dan tidak tercapai.
Dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ), siswa tidak bisa praktik dan bertemu gurunya secara langsung. Berujung pada kekhawatiran yang berdampak pada pencapaian akademis. Jika terjadi, nanti berpengaruh ke generasi mendatang.
Sedangkan dari sisi psikologis, siswa bisa kesulitan untuk mengembangkan relasi sosial dengan teman sebaya. Tentu secara psikis akan ada pengaruh di kepercayaan diri dan kemampuan adaptasi.
Jika PJJ terlalu lama berlangsung, para siswa bisa tidak memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Ada juga kecenderungan Zoom Fatigue di sini. Biasanya kan para siswa itu menggunakan Zoom atau aplikasi video conference lainnya. Jadi secara psikis, kalau terus-terusan menggunakan teknologi itu cenderung mengalami kelelahan,” lanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
BRI dan Komitmen Membangun Ekosistem Olahraga Indonesia yang Berkelanjutan
-
'Seperti Batang Kayu', Orang Utan Kerap Muncul di Jalan Poros Kutai Timur
-
33,8 Juta Debitur Dilayani, BRI Perkuat Peran dalam Holding UMi
-
BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim
-
Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif