SuaraKaltim.id - Salah satu petugas yang selama pandemi Covid-19 berada di lini terdepan dalam memberikan pelayanan bagi warga yakni tenaga kesehatan (nakes). Sehingga, sudah sewajarnya jika mereka mendapatkan perhatian dari Pemerintah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Andi Sri Juliarty mengatakan, saat ini untuk nakes pemberian honor masih sama. Dengan standar yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan yakni senilai Rp 4,5 Juta.
“Nilai tersebut diluar insentif yang diberikan dari penanganan pasien yang dilayani,” ujarnya, melansir dari Inibalikpapan.com--Jaringan Suara.com, Kamis (3/3/2022).
Dio biasa Andi Sri Juliarty disapa, menjelaskan, jika ke depan kasus Covid-19 tidak kunjung landai, dan dua isoter yakni di Hotel Grand Tiga Mustika dan Embarkasi Haji penuh, maka tidak menutup kemungkinan akan membuka kembali tempat isoter lainnya.
“Tapi kita berharap kasus Covid-19 di Balikpapan tidak semakin naik,” harapnya.
Dia melanjutkan, jikalau harus membuka lokasi isoter baru, pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan DPRD Kota Balikpapan. Karena hal ini dianggap berkaitan dengan penganggaran.
“Tak hanya DKK, semua OPD terkait tentu akan mengusulkan anggaran dana tidak terduga jika kasus semakin naik,” katanya.
Sementara itu, para nakes yang bertugas di tempat isoter ini juga dibantu dari beberapa relawan seperti PMI, misalnya saja di Embarkasi Haji, disana minimal ada 4 shift, dalam satu shift harus ada satu dokter, dua perawat dan satu sopir.
“Kalau di Hotel Grand Tiga Mustika dibantu juga para karyawan hotel dalam penanganan pasien,” akunya.
Baca Juga: Karena IKN Nusantara, Pemerintah Pusat Diharap Bisa Hubungkan KIB PPU dan KIK Balikpapan
Sedangkan sampai saat ini sudah ada 225 nakes di Kota Balikpapan yang terpapar Covid-19, namun kondisinya relatif baik dan tidak ada yang sampai bergejala parah.
“Rata-rata hanya gejala ringan, cukup dengan isoman,” imbuhnya.
Walau begitu pihak tidak melakukan penambahan tenaga kesehatan karena dianggap belum mendesak.
“Ada ketentuan dari Kementerian Kesehatan, bahwa kalau tenaga kesehatan itu lima hari isolasi mandiri. Kemudian diperiksa lagi, kalau negatif maka sudah bisa bekerja kembali,” terangnya.
Dia juga memastikan, pelayanan kesehatan kepada masyarakat tak terganggu. Terutama di puskesmas, yang kalau ditemukan kasus positif akan ditutup selama satu hari untuk proses disinfektan dan tracing.
“Setelah itu pasien dialihkan ke puskesmas tetangga. Jadi gak terganggu pelayanan. Masih bisa tertangani,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Dugaan Korupsi Batu Bara Perumda Varia Niaga Samarinda, Negara Rugi Rp30,9 Miliar
-
Eksepsi Budiono Tanbun Ditolak, Pakar Unmul Justru Soroti Daluwarsa Kasus Tambang JMB
-
Ahli BPKP Ungkap Metode Potential Loss, Kuasa Hukum JMB Soroti Kepastian Audit
-
Polda Tetapkan 33 Tersangka Karhutla Kaltim, Dua di Antaranya Korporasi
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling