SuaraKaltim.id - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyatakan, pengelolaan hutan yang lestari pada Bentang Alam Wehea-Kelay di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mampu menaikkan kepadatan orangutan. Sehingga ia mengapresiasi Pemprov mengajak para pihak dalam pembangunan hijau.
Hal itu disampaikan Spesialis Konservasi Spesies Terancam Punah dari YKAN Arif Rifqi belum lama ini. Ia mengatakan, melalui prinsip pengelolaan hutan secara lestari kini tingkat kepadatan orangutan bertambah.
"Melalui prinsip pengelolaan hutan secara lestari oleh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Alam, kini tingkat kepadatan orangutan di bentang alam tersebut meningkat," ujarnya, disadur dari ANTARA, Jumat (03/03/2023).
Saat ini, katanya, tingkat kepadatan populasi orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay mengalami kenaikan. Dari O,204 individu per kilometer persegi (km2) menjadi 0,377 individu per km2. Yakni, di kawasan yang dikelola PT Karya Lestari.
Kemudian pada kawasan hutan alam yang dikelola oleh PT Gunung Gajah Abadi (GGA) pun mengalami peningkatan, yakni dari sebelum dikelola dengan kepadatan 0,671 individu per km2 menjadi 0,808 individu orang utan per km2.
Ia mengatakan, kepadatan populasi orang utan di PT GGA meningkat 17 persen. Kemudian di PT Karya Lestari meningkat 46 persen ketimbang empat tahun lalu.
"Sehingga temuan ini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan hutan lestari dalam skala bentang alam bisa menyelamatkan populasi orangutan," jelasnya.
Pemantauan orangutan yang pihaknya lakukan menggunakan metode penghitungan jumlah sarang pada transek tegak lurus (line transect). Yakni, dengan total pemantauan sebanyak 33 jalur yang tersegmentasi dengan jarak antar-jalur 4 km yang mewakili luas wilayah kajian.
Ia menjelaskan, area kelola PT GGA dan PT Karya Lestari merupakan tempat pemantauan populasi orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay.
Baca Juga: Tak Ada Hujan Beberapa Hari, BMKG Deteksi 5 Titik Panas di Kutim
"Hal ini dilakukan karena 2 perusahaan tersebut merupakan anggota Forum Pengelolaan Bentang Alam Wehea-Kelay dan telah menerapkan praktik pengelolaan terbaik dalam operasi mereka," lugasnya.
Menurutnya, orangutan merupakan satwa yang dilindungi. Baik secara nasional maupun global. Bahkan tiap 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orangutan Sedunia.
Orangutan merupakan spesies payung, karena berperan dalam regenerasi hutan dengan menyebarkan biji-bijian pohon yang ia konsumsi, sehingga jika orang utan hilang, maka akan mempengaruhi hilangnya spesies lain di habitat tersebut.
"Orang utan memiliki kemiripan 93 persen dengan DNA manusia, sehingga masih banyak yang dapat dipelajari dari ekologi mereka. Masih banyak hal tentang orang utan yang belum terkuak, masih panjang perjalanan untuk mengupas peranan orang utan bagi kehidupan manusia," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dana Ilegal Tidak Mengalir ke Perbankan, Kejati Sebut Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Dikembalikan
-
Pertamax Naik, Dapat Pertalite di Kota Minyak Semakin Sulit
-
Salahgunakan Pemberian KUR, Delapan Ibu-ibu di Samarinda Diamankan Kejaksaan
-
Kini Hindari Wawancara, Gaya Komunikasi Gubernur Rudy Mas'ud Jadi Sorotan
-
Diskominfo Kaltim Soroti Media Lokal Abaikan Kode Etik Demi Viralitas