Kondisi tersebut membuat korban kerap merasa tidak aman, malu, dan tertekan secara psikologis. Proses pendampingan korban jadi lebih berat. Esti meminta jurnalis bisa lebih berhati-hati dalam menulis dan memotret kasus yang demikian.
Psikolog Patria Rahmawati menyebutkan, jenis-jenis kekerasan yang sering dialami perempuan. Secara fisik, verbal, maupun kekerasan seksual, serta dampak pemberitaan terhadap penyintas kekerasan.
"Pemberitaan yang tidak hati-hati bisa memperburuk kondisi psikologis korban. Kalimat atau parafrase yang tidak tepat bisa memberikan dampak negatif bagi korban dan keluarganya," katanya.
Rahma, sapaan akrabnya, juga mendorong pentingnya pelatihan bagi jurnalis, terutama dalam meliput isu-isu yang sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber dan peserta sepakat bahwa ruang aman bagi jurnalis, baik secara psikologis maupun fisik, perlu dijaga agar mereka bisa bekerja dengan optimal tanpa harus menghadapi tekanan atau intimidasi.
AJI Balikpapan berharap agar diskusi ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pemberitaan yang ramah gender dan menciptakan ruang aman bagi jurnalis perempuan.
Serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi korban kekerasan dan memberikan dukungan yang tepat.
Hasil Survei AJI Balikpapan
Dalam diskusi tersebut, juga dipaparkan hasil survei dari AJI Balikpapan yang menunjukkan bahwa kondisi jurnalis perempuan di Balikpapan masih perlu mendapat perhatian.
Baca Juga: 13 Tahun Mengabdi, AJI Balikpapan Gelar Konferta V
Dari 17 responden yang merupakan jurnalis perempuan di Balikpapan, 62,5% mengaku pernah menjadi korban kekerasan verbal, dan 58,8% mengalami kekerasan berbasis gender.
Yang mengejutkan adalah bahwa 64,7% jurnalis perempuan pernah menyaksikan pelecehan berbasis fisik atau verbal di lingkungan kerja mereka.
"Hal ini menjadi perhatian penting, karena kekerasan atau pelecehan ternyata juga terjadi di kalangan jurnalis itu sendiri," tambah Dina.
AJI Balikpapan juga mendorong agar perusahaan media dan jurnalis menciptakan lingkungan kerja yang ramah perempuan. Selain itu, AJI Balikpapan mengajak perusahaan pers dan organisasi wartawan rutin memberi pelatihan yang terstruktur bagi wartawan tentang peliputan kasus kekerasan atau pelecehan seksual.
Kontributor : Arif Fadillah
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
BRI Sepakat Tebar Dividen Rp52,1 Triliun, Cek Jadwal Detail dan Pembagiannya
-
Perkuat Ekosistem Digital, BRI Hadirkan Fitur Tebus Gadai di BRImo
-
Polemik Iuran BPJS Memanas, Wali Kota Samarinda Tantang Tim Ahli Gubernur Kaltim
-
Pemprov Kaltim Rincikan Anggaran Renovasi Rumah Dinas Gubernur Rp25 Miliar
-
Wali Kota Samarinda Tolak Penghapusan Iuran BPJS, Begini Jawaban Pemprov Kaltim