- Lemas dan cepat lelah bisa menjadi tanda awal seseorang mengalami anemia
- Kondisi tersebut otomatis akan membuat tubuh merasa kekurangan energi, lemah, letih, dan lesu
- Kondisi ini umumnya diukur melalui kadar hemoglobin atau HB dalam darah
SuaraKaltim.id - Dokter spesialis penyakit dalam Johanes Adiatna Mastan menyatakan bahwa sering merasa lemas dan cepat lelah bisa menjadi tanda awal seseorang mengalami anemia.
"Kekurangan sel darah merah berarti menyebabkan nutrisi dan oksigen yang ada dalam tubuh kita ini tidak tersebar atau tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh jaringan," kata dokter Johanes di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (26/10).
Kondisi tersebut otomatis akan membuat tubuh merasa kekurangan energi, lemah, letih, dan lesu.
"Jadi yang disebut anemia itu adalah kekurangan sel darah merah," paparnya.
Kondisi ini umumnya diukur melalui kadar hemoglobin atau HB dalam darah. Patokan umum yang digunakan adalah ambang batas 12 gram per desiliter (g/dL) untuk perempuan dan 13 g/dL untuk laki-laki.
Seseorang dapat disebut anemia ketika kadar HB berada di bawah ambang batas tersebut.
Namun, evaluasi dan pemantauan lebih lanjut biasanya diperlukan jika HB sudah di bawah 10 g/dL atau mulai menimbulkan gejala klinis.
Ia meluruskan mitos bahwa wajah pucat selalu menandakan anemia.
"Pucat itu bisa karena banyak hal," ujarnya.
Baca Juga: Kaltim Kirim Dokter Relawan ke Palestina, Bukti Komitmen Kemanusiaan Global
Ia menyebut wajah pucat bisa disebabkan multifaktorial dan tidak selalu anemia. Johanes juga membantah mitos bahwa anemia hanya terjadi karena kekurangan zat besi.
"Anemia itu tidak hanya melulu karena kurang zat besi ya," katanya.
Menurutnya, anemia bisa disebabkan oleh kekurangan folat atau vitamin B12. Selain itu, anemia juga bisa terjadi akibat penyakit autoimun atau adanya penyakit kronik.
"Karena penyebabnya sangat luas, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk menentukan jenis anemia. Diagnosis memerlukan pengecekan parameter lain selain HB, yaitu volume sel darah merah (MCV), konsentrasi rata-rata hemoglobin pada satu sel darah merah (MCHC), dan rata-rata hemoglobin (MCH)," katanya.
Dokter Johanes juga mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang paling sering ditemui di lapangan. Salah satunya adalah orang-orang dengan kondisi diet restriksi khusus.
Pola makan tersebut dapat membuat seseorang menderita anemia jika kebutuhan nutrisi lain tidak terpenuhi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri
-
BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja BRI dan Berikan Dampak Bagi Perekonomian Rakyat
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu