-
NTP Kaltim naik menjadi 148,98 pada Oktober 2025, menunjukkan kesejahteraan dan daya beli petani tetap kuat karena pendapatan lebih tinggi dibanding biaya pengeluaran.
-
Kenaikan terutama didorong subsektor perkebunan rakyat dengan NTP tertinggi 213,40, sementara subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan mengalami penurunan.
-
NTUP juga meningkat menjadi 154,67, menegaskan penguatan ekonomi rumah tangga petani berdasarkan pemantauan harga di enam kabupaten sentra pertanian.
SuaraKaltim.id - Tingkat kesejahteraan petani di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan tren positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2025 mencapai 148,98, atau naik 1,70 persen dibanding bulan sebelumnya.
Angka tersebut menempatkan petani Kaltim jauh di atas garis keseimbangan 100, yang menandakan daya beli dan pendapatan petani relatif lebih baik daripada pengeluaran mereka.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga jual hasil pertanian, sementara biaya konsumsi dan produksi hanya mengalami kenaikan minimal.
Hal itu disampaikan Yusniar saat berada di Samarinda, Kamis, 6 November 2025.
"Kenaikan NTP disebabkan naiknya indeks harga hasil produksi pertanian 1,76 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani berupa barang dan jasa yang dikonsumsi dan untuk biaya produksi maupun penambahan modal hanya naik 0,06 persen," kata Yusniar disadur dari ANTARA, di hari yang sama.
Kenaikan NTP Kaltim merupakan akumulasi dari lima subsektor.
Di antaranya, subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat performa paling menonjol dengan NTP sebesar 213,40, menjadi motor pendorong utama peningkatan daya beli petani.
Subsektor perikanan juga ikut terkerek dengan kenaikan 0,68 persen.
Baca Juga: Ulah KPC, Kutim Terancam Stagnasi Ekonomi Pasca Tambang
Sebaliknya, tiga subsektor lainnya justru mengalami tekanan, yakni tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan—yang masing-masing menunjukkan penurunan indeks pada periode laporan.
Yusniar menegaskan, NTP bukan hanya menggambarkan kondisi pendapatan petani, tetapi juga kekuatan ekonomi rumah tangga desa dalam bertransaksi.
"NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat daya beli petani," ujarnya.
Sejalan dengan tren tersebut, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat menjadi 154,67 atau naik 1,45 persen dari bulan sebelumnya.
Data ini dihimpun dari pemantauan harga-harga di enam kabupaten sentra pertanian, yaitu Paser, Kutai Barat (Kubar), Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Berau, dan Penajam Paser Utara (PPU).
Dengan capaian ini, subsektor perkebunan kembali menegaskan posisinya sebagai roda penggerak ekonomi perdesaan Kaltim, sekaligus menandai penguatan daya beli petani di wilayah tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri