Eko Faizin
Senin, 29 Desember 2025 | 20:30 WIB
Junisya Aurelita atau Jeha (kiri, jilbab cokelat)​ salah satu penulis skenario Film Patah Hati yang Kupilih. [SuaraKaltim.id/Giovanni Gilbert​]
Baca 10 detik
  • Ratusan penonton memadati studio XXI Samarinda Square.
  • Kehadiran mereka untuk menonton Film Patah Hati yang Kupilih.
  • Film ini menceritakan  keyakinan, keluarga, dan tanggung jawab.

SuaraKaltim.id - Antusiasme anak muda Samarinda terlihat jelas saat ratusan penonton memadati studio XXI Samarinda Square, Rabu (24/12/2025).

Mereka berkumpul dalam acara nonton bareng film Patah Hati yang Kupilih, sebuah drama romantis yang menghadirkan konflik emosional dekat dengan realitas kehidupan generasi muda.

Sejak awal pemutaran, film ini berhasil menarik perhatian penonton melalui cerita cinta yang tidak sederhana. Patah Hati yang Kupilih, yang resmi tayang perdana pada 24 Desember 2025, menyoroti relasi segitiga antara Alya (Prilly Latuconsina), Ben (Bryan Domani), dan Fadil (Indian Akbar), dengan latar persoalan keyakinan, keluarga, dan tanggung jawab personal.

Cerita bermula dari hubungan Alya dan Ben yang tumbuh atas dasar cinta, namun kandas akibat perbedaan keyakinan dan tidak adanya restu keluarga.

Situasi kian rumit ketika Alya harus menghadapi kehamilan dari hubungannya dengan Ben, sementara keluarga Ben menolak bertanggung jawab saat Alya dan ibunya, Rahma (Marissa Anita), meminta kejelasan.

Dalam kondisi tersebut, Alya memilih jalan berat sebagai ibu tunggal dan membesarkan Freya (Humaira Jahra) tanpa kehadiran Ben.

Ia memutus hubungan dengan masa lalunya, sembari menjalani kehidupan yang sarat tuntutan moral dan agama dari sang ibu, yang sejak awal menolak hubungan beda keyakinan tersebut.

Dinamika cerita berkembang ketika Fadil hadir sebagai sosok yang menawarkan kestabilan, rasa aman, serta restu keluarga. Namun, kehadiran kembali Ben membuat Alya harus berhadapan dengan dilema emosional: antara masa depan yang lebih tenang atau cinta lama yang belum benar-benar selesai.

Pilihan Alya bukan sekadar tentang pasangan hidup, tetapi juga menyangkut masa depan anak, harapan keluarga, serta tekanan sosial. Film ini dengan konsisten menempatkan konflik personal dalam bingkai realitas yang kerap dialami banyak orang, terutama generasi muda.

Tanpa dramatisasi berlebihan, film ini menyuguhkan ketegangan emosional yang tumbuh dari situasi yang terasa dekat dengan keseharian.

Persoalan cinta, keluarga, dan tanggung jawab personal disajikan sebagai bagian dari keputusan hidup yang tidak selalu hitam-putih.

Menariknya, acara nobar tersebut turut menghadirkan salah satu penulis skenario film, Junisya Aurelita atau Jeha, yang merupakan putri daerah Samarinda.

Kehadirannya menjadi sorotan tersendiri, sekaligus inspirasi bagi anak muda lokal yang ingin meniti karier di industri kreatif nasional.

Jeha memperkenalkan dirinya sebagai penulis skenario yang memulai perjalanan dari daerah hingga terlibat dalam produksi film layar lebar. Ketertarikannya pada dunia cerita telah tumbuh sejak kecil, meski awalnya belum dianggap sebagai pilihan serius.

"Kalau nulis emang dari masa sekolah. Cuman, enggak pernah diseriusin," tuturnya.

Keseriusan tersebut mulai terbentuk saat Jeha menempuh pendidikan di jurusan film di Tangerang. Dari sana, ia mengenal dunia industri secara langsung dan mulai membangun pengalaman profesional.

Selepas lulus, Jeha sempat bergabung sebagai tim kreatif naskah sinetron sebelum akhirnya memutuskan fokus ke film layar lebar.

"Jadi, mereka produksi sinetron dan aku tuh tim kreatif untuk naskah sinetron di sana. Nah, sampai suatu ketika aku ngerasa aku pengen pindah ke film gitu," bebernya.

Pengalaman tersebut membentuk perspektif Jeha dalam menulis cerita yang ditujukan untuk audiens luas. Ia menyadari bahwa film komersial menuntut keseimbangan antara sudut pandang personal dan keterbacaan konflik bagi penonton.

"Aku enggak cuma ngelihat sesuatu dari versi aku aja, tapi harus mikir audiensnya gimana. Ceritanya nyampe enggak, konfliknya kebaca enggak," katanya.

Tema cinta beda keyakinan dalam film ini berangkat dari kisah nyata di lingkungan terdekat tim kreatif. Jeha menyebut cerita tersebut terinspirasi dari pengalaman seseorang yang menjalani hubungan lintas agama dalam waktu lama, namun tidak berujung pada pernikahan.

"Ceritanya kena banget karena dia benar benar secinta itu tapi enggak bisa berjodoh," ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, konflik film kemudian dikembangkan lebih luas. Menurut Jeha, isu agama hanyalah salah satu lapisan dari cerita yang juga menyentuh perbedaan latar belakang, tekanan keluarga, dan realitas sosial.

"Kita ngerasa ini bukan cuma soal agama, tapi soal dua dunia yang berbeda," ungkap dia.

Proses penulisan skenario memakan waktu sekitar empat bulan dan melibatkan riset mendalam. Tim penulis berdiskusi dengan berbagai pihak yang memiliki pengalaman serupa untuk memperkaya sudut pandang cerita.

"Kita ngobrol soal beda agama, soal jadi ibu di usia muda, soal mendidik anak tanpa figur bapak, termasuk dari sisi psikologisnya," jelasnya.

Judul Patah Hati yang Kupilih merepresentasikan inti cerita: keputusan sadar untuk mengambil jalan hidup yang menyakitkan namun dianggap paling bertanggung jawab. Kata "dipilih" menjadi penegasan bahwa setiap tokoh memahami risiko dari pilihannya.

Jeha berharap film ini bisa menjadi ruang refleksi bagi penonton dalam memandang cinta dan kehidupan secara lebih realistis.

"Semoga siapa pun yang nonton bisa merefleksikan apa pun yang ada di hidup mereka. Enggak harus relate untuk bisa meresapi film ini. Pada akhirnya kita harus memilih yang paling bijak dan realistis," pungkasnya.

Kontributor: Giovanni Gilbert

Load More