- Pemprov Kaltim sudah patenkan tiga komoditas perkebunan unggulan.
- Kaltim kini menargetkan Kopi Prangat dapat tuntas pada tahun 2026.
- Diharapkan komoditas Kopi Prangat akan meraih Indikasi Geografis (IG).
SuaraKaltim.id - Sebanyak tiga komoditas perkebunan unggulan dipaten Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) dan menargetkan satu lagi untuk Kopi Prangat dapat tuntas pada tahun 2026.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Taufiq Kurrahman menyatakan 3 komoditas yang sebelumnya telah resmi mendapatkan pengakuan hukum tersebut adalah Lada Putih Malonan Kutai Kartanegara, Kakao Berau, dan Aren Tuana Tuha dari Kutai Kartanegara.
"Kami menargetkan pada tahun 2026 satu lagi komoditas akan meraih Indikasi Geografis (IG), yakni Kopi Prangat yang berasal dari Kampung Kopi Luwak di Desa Prangat Baru, Kutai Kartanegara," ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (31/1/2026).
Langkah pengejaran status paten ini merupakan upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan khas sekaligus meningkatkan nilai tawar produk lokal di pasar internasional.
Proses pembentukan IG Kopi Prangat kini tengah bergulir melalui tahapan sosialisasi intensif serta pembentukan masyarakat perlindungan indikasi geografis di tingkat petani.
Pemerintah daerah juga sedang merampungkan pemenuhan dokumen persyaratan mulai dari SK Bupati, pengujian sampel laboratorium, hingga koordinasi teknis bersama Kementerian Hukum.
"Sinergi kuat terus dijalin antara Disbun Kaltim dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) tingkat provinsi maupun kabupaten guna mempercepat proses sertifikasi tersebut," kata taufiq.
Selain perlindungan hukum, Disbun Kaltim menyiapkan infrastruktur pendukung berupa Toko Kebun yang berfungsi sebagai pusat pemasaran produk-produk perkebunan yang telah bersertifikasi.
Dalam peta kekuatan ekonomi daerah, Kalimantan Timur memiliki tujuh komoditas andalan yakni kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dalam, lada, aren, serta kopi.
Dijelaskan Taufiq, kelapa sawit tetap menjadi penopang utama dengan luas lahan mencapai 1,6 juta hektare atau menguasai sekitar 95 persen total luas perkebunan di Benua Etam.
"Guna memperkuat sektor non-sawit, bidang pengolahan kini aktif memfasilitasi kebun rakyat agar mampu bertransformasi menjadi produk olahan UMKM yang bernilai tambah tinggi," cakapnya.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dilakukan Disbun Kaltim melalui pelatihan diversifikasi produk, salah satunya adalah teknik pembuatan gula semut bagi para petani aren.
Pemerintah juga membuka akses pasar yang lebih luas melalui kegiatan business matching yang mempertemukan petani lokal dengan pembeli skala besar dan buyer internasional.
"Program pemberdayaan ini, menyisir hingga ke pelosok desa, termasuk pelatihan bagi puluhan petani di Kutai Barat agar mampu menghasilkan produk perkebunan berkualitas standar industri," tegas Taufiq. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Produk Viva Cosmetics yang Ampuh Atasi Flek Hitam, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 5 Rekomendasi HP Layar AMOLED 120Hz Termurah 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- KUIS: Kalau Hidupmu Jadi Lagu, Genre Apa yang Paling Cocok?
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
Kaltim Sudah Patenkan 3 Tiga Komoditas Perkebunan, 2026 Kejar Kopi Prangat
-
3 Mobil Kecil Bekas dari Daihatsu yang Keren dan Ekonomis buat Harian
-
4 Mobil Bekas 90 Jutaan untuk Efisiensi dan Kenyamanan Keluarga
-
Akses KUR BRI Terus Meluas, 18 dari 100 Rumah Tangga Tercatat Jadi Debitur
-
5 Mobil Kecil Bekas Hemat Perawatan, Irit BBM dengan Kabin Lapang