- Dinas Kesehatan Kaltim buka suara terkait penolakan Wali Kota Samarinda soal bantuan iuran BPJS.
- Pemkot Samarinda diminta verifikasi ulang data peserta, yang masuk kategori desil 1 sampai desil 5.
- Pemprov Kaltim mengungkapkan jika kebijakan tersebut dilakukan untuk memeratakan anggaran.
SuaraKaltim.id - Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Dinas Kesehatan akhirnya menjelaskan perihal kebijakan redistribusi kepesertaan BPJS Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin, menyampaikan langkah tersebut dilakukan untuk memeratakan anggaran.
"Itu setiap tahun Rp21 miliar yang ditanggung, khususnya untuk masyarakat Kota Samarinda. Sementara untuk daerah lain jumlahnya lebih kecil," ujarnya melansir Kaltimtoday.co--jaringan Suara.com, Sabtu (11/4/2026).
Jaya menyampaikan hal tersebut setelah Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyampaikan penolakannya terkait kebijakan penghentian bantuan iuran BPJS Kesehatan.
Dia menyatakan kebijakan ini menyasar segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) yang sebelumnya ditanggung provinsi.
Melalui kebijakan ini, Pemkot Samarinda diminta melakukan verifikasi ulang terhadap data peserta, terutama yang masuk kategori desil 1 sampai desil 5 agar bisa didaftarkan kembali sebagai Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
Jaya juga membantah tudingan bahwa pengalihan ini dilakukan secara sepihak.
"Tidak tepat jika disebut bahwa kebijakan ini diambil secara sepihak oleh provinsi. Semua proses sudah melalui pembahasan bersama," ujarnya mengklarifikasi bahwa koordinasi dengan Dinkes kota sudah dilakukan.
Jaya menegaskan perlunya perhitungan ulang agar anggaran terdistribusi secara lebih adil kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Berdasarkan surat Sekda Kaltim Nomor 400.7.3.1/1510/Dinkes-IV/2026, sebanyak 49.742 warga Samarinda yang semula dibantu iurannya oleh provinsi, kini bebannya dialihkan ke pemerintah kota.
Jaya menjelaskan bahwa sejak 2019, Pemprov Kaltim telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp21 miliar setiap tahun khusus untuk menanggung iuran kesehatan warga Samarinda.
Angka ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan alokasi untuk daerah lain di Kaltim.
Sebelumnya, Andi Harun melontarkan kritik pedas dan menyebut kebijakan ini bukan redistribusi, melainkan pengalihan beban secara mendadak.
Wali Kota Samarinda tersebut menilai mekanisme koordinasi provinsi sangat buruk dan berpotensi merugikan masyarakat karena iuran tersebut merupakan komitmen kebijakan era Isran-Hadi.
"Jujur, ini bukan redistribusi, ini adalah pengalihan beban yang seharusnya mereka tanggung tetapi dialihkan kepada kabupaten dan kota tanpa mekanisme koordinasi yang layak," ungkap Andi Harun dalam konferensi pers.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut