- Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud meminta maaf di tengah kritikan masyarakat.
- Namun, gelagat permohonan maaf tersebut mendapat sorotan Dosen Psikologi.
- Dari perspektif psikologi, langkah itu mencerminkan adanya tekanan besar.
SuaraKaltim.id - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud menyampaikan permintaan maaf terbuka di tengah kritikan publik yang dilayangkan kepadanya.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani menilai permohonan maaf itu bukan sekadar respons spontan.
"Permintaan maaf yang disampaikan melalui video saya nilai sebagai upaya untuk menurunkan eskalasi ketegangan akibat berbagai respons dan aksi demonstrasi yang terjadi," ujarnya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com, Selasa (28/4/2026).
Ayunda menyampaikan, dari perspektif psikologi, langkah tersebut mencerminkan adanya tekanan besar sekaligus upaya pergeseran sikap dari defensif menuju proses koreksi diri.
Dia menilai kondisi masyarakat Kaltim saat ini berada dalam situasi sensitif menyusul sejumlah kebijakan kepala daerah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Hal ini dipicu oleh polemik pengadaan mobil dinas mewah, renovasi rumah jabatan, hingga isu nepotisme.
Ayunda mencermati adanya perubahan gaya komunikasi Gubernur dalam video tersebut.
Sebelumnya, Rudy Mas'ud cenderung bersikap defensif dan lebih banyak menggunakan dasar aturan untuk membela diri saat menjawab gejolak di masyarakat.
"Permintaan maaf ini juga dapat dilihat sebagai bentuk kebesaran hati. Namun, kunci utamanya bukan hanya pada penyampaian permintaan maaf, melainkan pada konsistensi kebijakan ke depan," tuturnya.
Lebih lanjut, Ayunda menyebut permintaan maaf tersebut merupakan tanggung jawab moral seorang pemimpin daerah untuk mempertanggungjawabkan kebijakannya.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari publik.
Meskipun menunjukkan jiwa besar dalam meredam konflik, Ayunda mengingatkan bahwa masyarakat perlu tetap mengawal realisasi janji tersebut.
Menurutnya, permintaan maaf akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan perubahan tindakan yang nyata.
"Percuma saja minta maaf kalau besoknya kembali seperti itu. Jadi yang perlu digarisbawahi adalah konsistensi, mulai dari ucapan hingga tindakan yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas," tegas Ayunda.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng