Eko Faizin
Minggu, 03 Mei 2026 | 12:58 WIB
TRC PPA saat pernah mengunjungi kediaman almarhum di Samarinda. [Ist]
Baca 10 detik
  • Siswa SMK meninggal akibat sepatu sempit menuai perhatian Dinas Pendidikan Kaltim.
  • Disebutkan jika permasalahan itu bisa diatasi melalui komunikasi siswa hingga sekolah.
  • Dinas Pendidikan menyayangkan jika ada siswa tidak bersekolah hanya karena sepatu.

SuaraKaltim.id - Peristiwa siswa SMK Negeri 4 Samarinda memakai sepatu sempit berujung sakit hingga meninggal dunia menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim).

Sebelumnya, pelajar kelas 11 SMK terpaksa memakai sepatu sekolah kekecilan, di tengah ketidakmampuan perekonomian keluarga.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin mengungkapkan jika persoalan sederhana seperti kekurangan perlengkapan sekolah seharusnya dapat diatasi melalui komunikasi yang baik antara siswa, orangtua, dan pihak sekolah.

"Kalau sepatunya kekecilan atau tidak punya, mestinya disampaikan. Sampaikan ke sekolah, sampaikan ke orang tua. Kita ini punya berbagai sumber bantuan, seperti dana PIP, BOSDA, dan BOSNAS. Kalau hanya satu atau dua anak, seharusnya bisa kita bantu," katanya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com, Sabtu (2/5/2026).

Armin menyayangkan jika ada siswa yang sampai tidak bersekolah hanya karena persoalan perlengkapan dasar seperti sepatu atau pakaian.

"Sayang sekali kalau hanya gara-gara sepatu atau baju, anak jadi tidak sekolah. Baik itu kelas 10, kelas 11, atau kelas 12, pasti kita bantu. Kalau sekolah tidak bisa membantu, datang ke dinas, saya siap bantu," ungkapnya.

Armin menjelaskan, kunci utama dalam menangani persoalan tersebut adalah komunikasi yang terbuka.

"Yang penting komunikasinya. Orang tua harus menyampaikan ke sekolah. Jangan sampai persoalan seperti ini malah dibesar-besarkan tanpa ada upaya komunikasi. Kalau ada anak kesulitan, angkat saja, sampaikan, pasti kita bantu," tegas dia.

Armin juga menekankan bahwa sekolah memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa yang membutuhkan.

Ke depan, dia meminta seluruh sekolah lebih proaktif dalam mengetahui kondisi siswa, termasuk melalui peran guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas.

"Sekolah harus benar-benar tahu kondisi anak-anaknya. Itu tugas guru BK dan wali kelas. Mereka harus tahu apakah ada siswa yang mengalami kesulitan," jelasnya.

Kendati begitu, ia menambahkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk berbagi masalah yang dihadapi dan bisa dicarikan solusinya.

"Sekolah itu harus menjadi 'second home' bagi anak. Harus nyaman, sehingga mereka bisa curhat kepada guru atau pihak sekolah. Kalau sudah terbuka, persoalan seperti ini bisa cepat ditangani, bahkan sampai ke dinas kalau diperlukan," ucap Armin.

Diketahui sebelum, meninggal siswa tersebut sempat sakit dan nyeri pada kaki, yang kemudian menjalar hingga ke pinggang dan punggung. Kondisi kaki sempat bengkak, akibat sepatu sempit.

Murid SMK itu sempat mendapatkan penanganan awal, berupa suntikan untuk meredakan sakitnya. Kondisinya sempat membaik, namun selang beberapa waktu ia menghembuskan nafas terakhir di kediamannya.

Load More