- Pemprov Kaltim memberikan klarifikasi terkait isu kursi pijat Gubernur Rp125 Juta.
- Pemprov membantah harga diperuntukkan hanya satu unit yang digunakan Gubernur.
- Disebut, angka Rp125 juta itu untuk dua unit pengadaan yang tercatat di Biro Barjas.
SuaraKaltim.id - Polemik pengadaan kursi pijat untuk Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud yang disebut senilai Rp125 juta masih menjadi perbincangan.
Pemprov Kaltim akhirnya memberikan klarifikasi meluruskan bahwa angka tersebut bukan merupakan harga satu unit barang.
Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal membantah harga tersebut diperuntukkan hanya bagi satu unit yang digunakan Gubernur.
Dia menjelaskan nilai Rp125 juta merupakan total anggaran untuk pengadaan dua unit kursi pijat melalui Biro Pengadaan Barang dan Jasa (Barjas).
"Angka Rp125 juta itu adalah untuk dua unit pengadaan yang tercatat di Biro Barjas. Bukan harga untuk satu unit," ujar Faisal dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com, Kamis (30/4/2026).
Ia membeberkan jika kursi pijat yang digunakan sebagai fasilitas pimpinan sebenarnya memiliki nilai sekitar Rp47 juta.
Dengan demikian, informasi yang menyebutkan kursi pijat Gubernur Kaltim bernilai Rp125 juta dinyatakan tidak benar.
Menanggapi polemik yang berkembang di publik, Gubernur Rudy Mas'ud sempat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Sebagai bentuk tanggung jawab secara moral, Rudy menegaskan kesiapannya untuk mengganti fasilitas tersebut menggunakan dana pribadi.
Namun, keinginan Gubernur untuk mengganti barang tersebut dengan dana pribadi dipastikan tidak dapat dilakukan.
Keputusan ini diambil setelah jajaran Pemprov Kaltim menggelar rapat pembahasan administrasi belanja barang dan jasa serta pengelolaan barang milik daerah yang dipimpin oleh Sekda.
Hasil rapat menyimpulkan bahwa mekanisme pembelian pribadi terhadap aset daerah, dalam hal ini akuarium dan kursi pijat oleh Gubernur, secara aturan tidak dapat dilaksanakan.
Hal ini dikarenakan barang-barang tersebut telah resmi tercatat sebagai aset Pemprov Kaltim.
Selain itu, barang tersebut juga belum memenuhi persyaratan untuk dilakukan mekanisme lelang sebagaimana diatur dalam ketentuan pengelolaan barang milik daerah.
Dari sisi administrasi, seluruh proses pengadaan dinyatakan telah sesuai dengan prosedur yang berlaku serta mengacu pada harga pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
Terkini
-
Wali Kota Andi Harun Buka Suara soal Korupsi Varia Niaga Rp30,97 Miliar
-
Tersangka Korupsi Batu Bara Rp30,9 Miliar, Dirut Varia Niaga Samarinda Tidak Ditahan
-
Perkara Korupsi Berusia Hampir 2 Dekade, Pakar Hukum Ingatkan Pentingnya Daluwarsa
-
Dugaan Korupsi Batu Bara Perumda Varia Niaga Samarinda, Negara Rugi Rp30,9 Miliar
-
Eksepsi Budiono Tanbun Ditolak, Pakar Unmul Justru Soroti Daluwarsa Kasus Tambang JMB