- Pemerintah daerah menghadapi tantangan keterbatasan fiskal serta aturan batas maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen dari APBD.
- Gubernur Kalimantan Timur menjamin tidak ada pengurangan formasi atau pemutusan hubungan kerja bagi seluruh pegawai PPPK daerah.
- Pemerintah pusat didesak memberi relaksasi aturan belanja pegawai dan meningkatkan alokasi transfer daerah untuk menjamin kesejahteraan PPPK.
SuaraKaltim.id - Pemerintah daerah (pemda) dihadapkan pada tantangan keterbatasan ruang fiskal serta adanya penerapan batas maksimal belanja pegawai sebesar 30% dari postur APBD.
Keterbatasan fiskal daerah tersebut berakibat pada penataan gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang berstatus penuh waktu maupun paruh waktu.
Namun, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud memberikan jaminan dan kepastian hukum bagi lini aparatur sipil negara di daerahnya.
Ia menegaskan bahwa PPPK di lingkungan Pemprov Kaltim tidak akan mengalami pengurangan formasi ataupun Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Khusus di Kaltim tidak ada pengurangan maupun PHK bagi PPPK. Kami juga berharap kebijakan yang sama berlaku di seluruh Indonesia," tegas Rudy dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com.
Menurutnya, forum legislasi tingkat nasional tersebut berhasil melahirkan kesepakatan krusial bahwa PPPK yang telah diangkat melalui skema kebijakan penataan tenaga hononer atau non-ASN tidak boleh diberhentikan secara sepihak.
Jaminan kerja ini tetap berlaku meskipun pemda dihadapkan pada tantangan keterbatasan ruang fiskal serta adanya penerapan batas maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen dari postur APBD.
Kesepakatan bersama itu didukung penuh oleh lintas sektoral, mulai dari Komisi II DPR RI, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian PANRB, serta gabungan asosiasi pemda yang meliputi APPSI, Apkasi, dan Apeksi.
Guna memperkuat bantalan finansial daerah dalam membiayai belanja pegawai, Komisi II DPR mendesak pemerintah pusat untuk mendongkrak alokasi Transfer ke Daerah (TKD) pada pagu anggaran tahun-tahun mendatang.
Selain itu, Jakarta juga didorong untuk memberikan masa transisi (relaksasi) terhadap penerapan regulasi ambang batas belanja pegawai maksimal 30 persen APBD yang dijadwalkan bakal berlaku mengikat mulai 1 Januari 2027.
Gubernur berharap nota keberatan dan permohonan relaksasi ketentuan tersebut dapat segera dikabulkan dan ditandatangani oleh otoritas pusat.
Hal ini krusial agar sirkulasi penataan anggaran daerah tidak berbenturan dengan aturan hukum yang ada.
"Semoga relaksasi ini segera dikabulkan sehingga daerah dapat menyusun APBD dengan baik sekaligus memberikan kepastian bagi para PPPK," tegas Gubernur Rudy.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng