Eko Faizin
Minggu, 06 September 2026 | 08:14 WIB
Ilustrasi - Penampakan kabut asap karhutla di Bandara H. Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. [Dok Kemenhub].
Baca 10 detik
  • Kasus ISPA di Samarinda melonjak 22,8 persen pada Agustus 2026 akibat kabut asap karhutla.
  • Rata-rata pasien harian meningkat dari 162,5 kasus pada Juni menjadi 206,2 kasus pada Agustus 2026.
  • Dinas Kesehatan memastikan pelayanan medis terkendali dan terus berkoordinasi dengan Satgas Karhutla Samarinda.

SuaraKaltim.id - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda melonjak akibat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebesar 22,8 persen sepanjang Agustus 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismid Kusasih mengatakan peningkatan grafik kasus ISPA tersebut, namun memastikan pelayanan medis di lapangan masih terkendali.

"Insiden ISPA ada kenaikan sekitar 22,8 persen pada bulan Agustus dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi, tapi kondisinya masih relatif terkendali," katanya.

Berdasarkan data laporan surveilans Dinas Kesehatan Samarinda, tren kenaikan kasus harian merangkak naik secara konsisten dalam tiga bulan terakhir.

Pada periode Juni 2026, rata-rata kunjungan pasien ISPA berada di angka 162,5 kasus per hari, kemudian naik menjadi 167,9 kasus per hari pada Juli 2026.

Lonjakan paling signifikan terjadi sepanjang periode 1 hingga 22 Agustus 2026, di mana rata-rata penderita harian melonjak hingga 206,2 kasus per hari.

Secara akumulatif, Dinkes Samarinda mendeteksi sebanyak 799 kasus riil ISPA yang masuk ke dalam 10 besar keluhan kesehatan utama masyarakat hingga akhir Agustus.

Ismid menjelaskan parameter kualitas udara di wilayah Kota Samarinda cenderung fluktuatif.

Berdasarkan pantauan berkala, Indeks Kualitas Udara (AQI) pada pagi hari kerap berada di bawah angka 50 atau masuk dalam kategori baik (hijau).

Namun, fluktuasi polusi udara sempat memburuk akibat cuaca kering dan kiriman asap karhutla.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di stasiun Taman Segiri sempat menembus angka 102 atau kategori "Tidak Sehat".

Kondisi tersebut diperparah oleh konsentrasi polutan utama PM2.5 yang sempat menyentuh 48,2 µg/m³, sehingga memicu imbauan resmi agar warga kembali memperketat penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Meskipun kualitas udara kerap berada di level aman, Dinkes Samarinda tidak mengendurkan pemantauan.

Penilaian teknis mengenai ketebalan dan konsentrasi kabut asap menjadi ranah Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sedangkan Dinkes memfokuskan pemantauan pada dampak kesehatan warga.

Ismid menegaskan penanganan situasi saat ini berada pada tahap kewaspadaan dini dan terus dikonsultasikan dengan Satgas Karhutla di bawah koordinasi Sekda Kota Samarinda.

Load More