Eko Faizin
Kamis, 03 September 2026 | 14:40 WIB
BKSDA Kaltim bersama Yayasan Jejang Pulang mengevaluasi orang utan agar terhindar dari ancaman karhutla Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. [ANTARA/HO-BKSDA Kaltim]
Baca 10 detik
  • BKSDA Kaltim dan Yayasan Jejak Pulang mengevakuasi sebelas orang utan dari karhutla di Samboja pada 1 September 2026.
  • Penyelamatan darurat dilakukan karena kebakaran lahan dan asap pekat semakin mendekati kawasan Sekolah Hutan Jejak Pulang.
  • Seluruh orang utan berhasil dipindahkan ke kandang rawat kilometer 38 dalam kondisi sehat dan aman.

SuaraKaltim.id - BKSDA Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Yayasan Jejak Pulang mengevakuasi 11 individu orang utan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebakaran lahan tersebut diketahui kian mendekati kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto mengatakan bahwa status darurat terpaksa diaktifkan di kawasan Sekolah Hutan Jejak Pulang pada 1 September 2026 pukul 16.00 WITA untuk menghindari risiko dari kepulan asap pekat dan kobaran api.

Ia menjelaskan bahwa proses penyelamatan dilakukan oleh tim Wildlife Rescue Unit BKSDA bersama para perawat satwa dengan sangat hati-hati, yakni membimbing dan menggendong satu per satu orang utan yang sedang dalam masa rehabilitasi menuju kendaraan evakuasi.

Berpacu dengan waktu di tengah jarak pandang yang mulai meredup, lanjut Ari, seluruh satwa dilindungi tersebut dipindahkan dengan aman pada pukul 18.00 WITA pada Selasa (1/9) ke fasilitas kandang rawat di kilometer 38 Samboja.

Berdasarkan hasil pemeriksaan setelah evakuasi, BKSDA Kaltim memastikan bahwa 11 individu orang utan tersebut terpantau dalam kondisi sehat dan aman dari dampak paparan asap.

Ia menambahkan bahwa selama berada di kandang rawat sementara, proses rehabilitasi orang utan tetap berjalan secara optimal dengan pemenuhan pakan, aktivitas, hingga enrichment (pengayaan) guna menjaga kondisi dan perilaku alami satwa.

"Langkah evakuasi yang disertai pemantauan kesejahteraan satwa ini menjadi wujud komitmen perlindungan keanekaragaman hayati Nusantara dari ancaman bencana lingkungan," tegas Ari. (Antara)

Load More