Eko Faizin
Rabu, 02 September 2026 | 15:23 WIB
Kota Pangkalan Bun mulai diselimuti asap tebal sehingga mengganggu jarak pandang pengendara serta kualitas udara menurun, Rabu (2/9/2026) pagi. [Antara/Safitri RA]
Baca 10 detik
  • Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Barat memicu kabut asap tebal di Kota Pangkalan Bun pada Rabu, 2 September 2026.
  • BPBD Kotawaringin Barat mencatat 1.717,458 hektare lahan terbakar dan 1.160 titik panas terdeteksi sepanjang tahun 2026.
  • Tim Satgas Karhutla memadamkan kebakaran di enam lokasi berbeda untuk menanggulangi perluasan lahan terbakar.

SuaraKaltim.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai menimbulkan dampak kabut asap sejak beberapa waktu belakangan ini.

Kota Pangkalan Bun pada Rabu (2/9/2026) pagi mulai diselimuti asap tebal sehingga mengganggu jarak pandang pengendara serta kualitas udara menurun.

Kondisi ini menyebabkan sejumlah masyarakat mulai mengeluh karena bukan hanya di luar, bahkan kabut asap tersebut mulai masuk hingga ke dalam rumah.

"Saya merasa tidak nyaman saat menghirup udara di pagi hari ini, karena kabut asap yang cukup tebal. Cukup kaget dengan kabut asap yang cukup tebal pagi ini, jadi menghirup udara terasa sesak dan batuk, pakai masker pun masih tetap tercium bau asap, mata juga perih," kata warga Pangkalan Bun, Rusmiati.

Dia berharap karhutla di Kabupaten Kobar ini segera berakhir, sehingga dirinya dan masyarakat lainnya dapat kembali menghirup udara segar.

"Semoga hujan segera turun, agar karhutla segera berakhir dan kami bisa merasakan kembali menghirup udara segar," jelas Rusmiati.

Sementara Plt Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotawaringin Barat, Andhan Santana mengatakan, karhutla masih terus terjadi.

"Sebanyak 1.717,458 hektare lahan terbakar, sementara 1.160 titik panas (hotspot) terdeteksi sepanjang tahun ini," katanya.

Andhan mengatakan, dari jumlah tersebut, Agustus menjadi bulan dengan data terbanyak kejadian, titik hotspot dan luasan lahan yang terbakar akibat Karhutla.

"Sepanjang bulan Agustus luas lahan yang terbakar kurang lebih 1.508,91 hektare dengan 1.033 titik hotspot terdeteksi," ucapnya.

Menurut Andhan, lonjakan itu membuat Agustus menjadi periode dengan aktivitas hotspot tertinggi sepanjang 2026.

Sementara itu, pada 1 September 2026, Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kabupaten Kobar masih terus berjibaku dengan api pada enam lokasi kejadian hingga malam hari. Kejadian kebakaran lahan inilah yang memicu kabut asap.

Enam lokasi tersebut yaitu Km 13-16 lintas jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama dengan luasan kurang lebih 4 hektare lahan terbakar, Desa Tanjung Putri kurang lebih 5 hektare.

Sementara itu, Desa Tanjung Terantang luas lahan yang terbakar kurang lebih 9 hektare, perbatasan Desa Pasir Panjang dan Desa Kumpai Batu Atas kurang lebih 2 hektare yang terbakar.

Serta Desa Sungai Kapitan Kecamatan Kumai kurang lebih 5 hektare terbakar, serta di belakang perumahan di wilayah Desa Pasir Panjang kurang lebih 2 hektare lahan terbakar. (Antara)

Load More