- Warga Berau menggelar aksi protes ke kantor PLN UP3 pada Senin malam menuntut pemulihan pasokan listrik.
- Pemadaman bergilir terjadi karena defisit daya serta robohnya menara transmisi 150 kV jalur Maloy-Talisayan.
- PLN belum memastikan waktu pemulihan menyeluruh karena daya pembangkit lokal masih berada di bawah kebutuhan harian.
SuaraKaltim.id - Pemadaman listrik bergilir yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut memicu keresahan masyarakat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).
Sejumlah warga mendatangi kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Berau untuk menyampaikan protes sekaligus menuntut agar pasokan listrik segera kembali normal pada Senin (26/10/2026) tengah malam.
Aksi tersebut mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap gangguan listrik yang dinilai terus berulang.
Warga menilai persoalan ini bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan masalah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Salah seorang demonstran, Jogras, menyebut pemadaman listrik di Berau telah dirasakan masyarakat sejak 2009.
Ia menilai kondisi tersebut memprihatinkan, terlebih Berau dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dihasilkan daerah semestinya turut mendukung ketersediaan energi listrik bagi masyarakat setempat.
"Masyarakat Berau kalau berbicara kecewa, sangat kecewa karena sejak 2009 mati lampu terjadi setiap tahun. Sementara kekayaan alam kita dikeruk, diekspor untuk menyalakan PLTU di kota-kota besar, tapi di daerah malah pemadaman listrik terus," kata Jogras dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com.
Dalam aksi tersebut, masyarakat meminta PLN segera memulihkan pasokan listrik agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu.
Jogras mengatakan warga juga keberatan dengan perkiraan pemadaman yang dapat berlangsung hingga empat jam, terutama karena informasi mengenai waktu dan wilayah terdampak dinilai masih minim.
Ia berharap PLN memberikan penjelasan yang terbuka dan jadwal pemadaman yang jelas apabila pengaturan pasokan listrik bergilir masih harus dilakukan.
"Kita hanya cuma minta penormalan. Kalau informasi yang kita dapat dari manajemen PLN pemadaman bisa sampai empat jam, kita tidak terima itu, apalagi informasi sangat minim kita terima," tegasnya.
PLN Ungkap Defisit Daya di Berau
Menanggapi tuntutan warga, Kepala PLN UP3 Berau, Erwinton Naibaho, menjelaskan bahwa pemadaman berkepanjangan terjadi akibat gangguan pada sejumlah pembangkit yang memasok listrik ke wilayah Kaltim dan Kalimantan Utara.
Gangguan tersebut mengurangi ketersediaan daya sehingga pasokan listrik tidak mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan pelanggan.
Khusus di Berau, defisit daya disebut berkisar antara 2 hingga 4 megawatt (MW).
Dalam kondisi tertentu, kekurangan pasokan bahkan pernah mencapai 6 MW, meskipun menurut Erwinton situasi tersebut jarang terjadi dan biasanya berlangsung selama satu hingga dua hari.
Untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat, PLN menerapkan langkah mitigasi dengan memprioritaskan penyaluran listrik kepada pelanggan dibandingkan perusahaan yang memiliki pembangkit listrik sendiri atau captive power.
Kebijakan tersebut sempat membantu meredakan keluhan warga. Namun, kondisi kelistrikan kembali menghadapi tekanan setelah terjadi gangguan tambahan pada jaringan transmisi.
Menara Transmisi Maloy–Talisayan Roboh
Erwinton menjelaskan, salah satu faktor yang memperburuk pasokan listrik ke Berau adalah robohnya menara transmisi di jalur Maloy–Talisayan, Kabupaten Kutai Timur.
Menara tersebut merupakan bagian dari jaringan transmisi bertegangan 150 kilovolt (kV) yang berfungsi menyalurkan energi listrik dari pembangkit menuju jaringan distribusi dan pelanggan.
"Tower itu memiliki beban daya 150 kV (kilovolt), berfungsi untuk mengalirkan energi listrik dari pembangkit hingga ke pelanggan. Begitu transmisi ini terputus, maka kita kehilangan daya," jelasnya.
Terputusnya jalur transmisi tersebut membuat pasokan listrik yang dapat disalurkan ke Berau semakin terbatas. PLN pun mengandalkan pembangkit lokal untuk membantu memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Dua fasilitas yang dioperasikan sebagai langkah antisipasi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sambaliung dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Bayur.
Namun, kemampuan pembangkit lokal tersebut masih belum mencukupi kebutuhan listrik Berau secara keseluruhan.
Kebutuhan Malam Hari Capai 50 MW
Menurut Erwinton, kebutuhan listrik di Berau saat beban puncak harian berada pada kisaran 46 hingga 50 MW.
Sementara itu, konsumsi listrik pada siang hari rata-rata berkisar 30 MW dan meningkat ketika memasuki malam hari.
Di sisi lain, daya yang dapat dihasilkan dari pembangkit lokal yang dioperasikan PLN hanya mencapai sekitar 37,5 MW.
"Namun, kita hanya bisa mengaktifkan hingga 37,5 MW. Itu sangat jauh dari angka kebutuhan harian di Berau," ungkapnya.
Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan daya tersebut membuat PLN harus melakukan pemadaman bergilir untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.
Situasi semakin menantang karena PLN juga harus memastikan pasokan listrik tetap tersedia selama pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Erwinton mengatakan, pembatasan pemadaman selama kegiatan tersebut berlangsung berdampak pada pengaturan jadwal bagi pelanggan lainnya.
"Jadi kami tidak bisa melakukan pemadaman ketika tes tersebut berlangsung. Jadi terpaksa banyak pelanggan yang harus dipadamkan dalam waktu cukup lama," tambahnya.
PLN Belum Pastikan Waktu Pemulihan
Terkait penanganan menara transmisi Maloy–Talisayan yang roboh, Erwinton menyampaikan bahwa petugas teknis telah melakukan pembersihan di area sekitar lokasi.
Meski demikian, PLN belum memberikan kepastian mengenai waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan pasokan listrik secara menyeluruh.
PLN menyatakan terus melakukan upaya penanganan agar kondisi kelistrikan di Berau kembali stabil dan kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi.
Sementara proses pemulihan berlangsung, masyarakat masih menantikan kepastian mengenai normalisasi pasokan listrik serta informasi yang lebih jelas terkait pelaksanaan pemadaman bergilir di wilayah mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut
-
Kebakaran Lahan di Tol Samarinda-Balikpapan, Petugas Terkendala Pasokan Air
-
37 Orang Ditangkap Terkait Dugaan Pencurian Kabel Modus Gali Jalan di Samarinda
-
Empat Bocah Selamatkan Bekantan, BKSDA Samarinda Sampaikan Terima Kasih
-
Asap Karhutla Kuning Masih Selimuti Palangkaraya, Ganggu Jarak Pandang