Sebelum itu terjadi, pimpinan ponpes juga sempat merusak handphone milik korban. Pasalnya, korban beberapa kali ketahuan bertelponan dengan pacarnya saat tengah malam.
Di momen lain, terduga pelaku sempat mengirim pesan kepada korban yang curiga bahwa santrinya itu hamil karena tak kunjung datang bulan. Hanya saja pesan itu diabaikan korban.
Sampai pada akhirnya pimpinan ponpes memanggil keluarga pacar korban. Sang pimpinan ingin membangun kesepakatan agar pacar pelaku mau bertanggung jawab, karena korban ternyata dalam kondisi hamil.
"Tentu kami tidak terima. Karena ini memang adik saya jadi korban. Kami tidak mau ini juga terjadi pada santri lain. Soal adik saya dan pacarnya tidak masuk dalam inti persoalan, itu kasus lain," katanya.
Baca Juga:Korban Pelecehan Seksual Oknum Pimpinan Ponpes di Bontang Catat Tiap Aksi Bejat yang Dialami
Kakak korban juga mengatakan seluruh bukti chat dan catatan adiknya sudah diserahkan ke Penyidik Polres Bontang.
Keluarga dan Korban Merasa Diteror
Korban dan kakaknya yang melaporkan oknum pimpinan ponpes atas dugaan pelecehan seksual mengaku mengalami aksi teror. Korban saat ini pun juga merasa trauma berat.
Kakak korban mengatakan ada 5 nomor ponsel yang menghubunginya terus menerus. Hal itu membuat dirinya tidak nyaman. Bahkan beberapa tetangganya melihat ada orang yang menunggu di rumah korban.
"Banyak saya dapat teror ponsel masuk. Terus ada juga yang datang ke rumah," kata kakak korban.
Baca Juga:Dilaporkan Karena Kasus Asusila, Oknum Pimpinan Ponpes di Bontang Terdaftar Caleg