Cegah Perundungan, DPRD PPU Dorong Kolaborasi Sekolah, Orang Tua, dan Pemerintah

Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota DPRD PPU, Adla Dewata, di Penajam, Minggu (30/03/2025).

Denada S Putri
Rabu, 02 April 2025 | 19:21 WIB
Cegah Perundungan, DPRD PPU Dorong Kolaborasi Sekolah, Orang Tua, dan Pemerintah
Ilustrasi perundungan di sekolah. [Ist]

SuaraKaltim.id - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menegaskan bahwa keterlibatan pihak sekolah dan orang tua sangat penting dalam upaya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota DPRD PPU, Adla Dewata, di Penajam, Minggu (30/03/2025).

"Peran orang tua dan sekolah juga penting, bukan saja pemerintah yang tangani pencegahan perundungan," ujarnya, disadur dari ANTARA, Rabu (02/04/2025).

Ia menjelaskan bahwa perundungan dapat berdampak buruk baik secara fisik maupun psikis terhadap individu yang menjadi korban, serta mempengaruhi karakter pelaku dan korban itu sendiri.

Baca Juga:Minim Respons, Layanan Kesehatan Gratis di Wilayah IKN Sepi Peminat

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU dengan dukungan DPRD telah membentuk satuan tugas (satgas) yang bertugas melakukan sosialisasi dan pendampingan bagi anak-anak guna mencegah kasus perundungan.

"Pemerintah kabupaten bersama sekolah dan orang tua bisa bekerja sama untuk cegah dan tangani perundungan," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sosialisasi secara berkelanjutan dalam upaya pencegahan perundungan.

"Harus digalakkan dan disosialisasikan cegah perundungan, semua harus turun tangan karena anak-anak harus dilindungi," kata Adla Dewata.

Sementara itu, Anggota DPRD PPU lainnya, Budi Sarwoto, menyarankan agar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk menyusun sistem pengawasan terhadap perundungan di lingkungan pendidikan.

Baca Juga:Polres PPU Amankan Arus Mudik Lebaran 2025 di Jalur Tol IKN

Menurutnya, latar belakang sosial pelaku dan korban sering kali berperan dalam terjadinya kasus perundungan.

"Pemerintah kabupaten juga harus didukung sekolah dan orang tua agar perundungan dapat dicegah," ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa satgas yang telah dibentuk harus turun langsung untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan, terutama terhadap anak dan perempuan, yang menjadi perhatian utama pemerintah.

Berdasarkan catatan dari dinas terkait, sepanjang tahun 2023 hingga 2024 terdapat 77 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, dengan 54 korban merupakan anak-anak dan 23 korban lainnya adalah perempuan, demikian disampaikan oleh Budi Sarwoto.

Ilustrasi perundungan di sekolah. [Ist]
Ilustrasi perundungan di sekolah. [Ist]

Bahaya Perundungan: Dampak Serius bagi Korban dan Pelaku

Perundungan atau bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti atau mengintimidasi seseorang.

Fenomena ini bisa terjadi di berbagai lingkungan, seperti sekolah, tempat kerja, bahkan di media sosial. Perundungan tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga pada pelaku dan lingkungan sosial secara keseluruhan.

Dampak Perundungan bagi Korban

Korban perundungan sering kali mengalami berbagai dampak negatif, baik secara fisik maupun psikologis. Beberapa efek yang dapat muncul antara lain:

  1. Gangguan Kesehatan Mental – Korban perundungan rentan mengalami stres, kecemasan, depresi, dan bahkan berpikir untuk bunuh diri.
  2. Penurunan Prestasi Akademik – Anak-anak yang mengalami perundungan sering kali kehilangan motivasi belajar dan sulit berkonsentrasi di sekolah.
  3. Masalah Kesehatan Fisik – Sakit kepala, gangguan tidur, dan kelelahan kronis bisa menjadi akibat dari tekanan mental yang dialami korban.
  4. Kesulitan dalam Hubungan Sosial – Korban sering kali menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa tidak percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dampak Perundungan bagi Pelaku

Pelaku perundungan tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri mereka sendiri. Beberapa dampak yang dapat dialami pelaku antara lain:

  1. Peningkatan Perilaku Agresif – Jika tidak dihentikan, pelaku cenderung mengembangkan sifat agresif yang bisa berlanjut hingga dewasa.
  2. Masalah Hukum di Masa Depan – Banyak kasus perundungan berujung pada tindakan kriminal, yang bisa berdampak buruk bagi masa depan pelaku.
  3. Kesulitan dalam Hubungan Sosial – Pelaku sering kali tumbuh menjadi individu yang kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Pencegahan Perundungan

Pencegahan perundungan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, terutama orang tua dan pihak sekolah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Meningkatkan Kesadaran – Sosialisasi tentang bahaya perundungan harus dilakukan sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah.
  2. Membuka Ruang Komunikasi – Anak-anak perlu merasa nyaman untuk berbicara dengan orang tua atau guru jika mengalami perundungan.
  3. Menegakkan Aturan yang Tegas – Sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas terkait perundungan dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku.
  4. Membentuk Lingkungan yang Aman dan Positif – Mendorong budaya saling menghargai dan mendukung dapat mencegah perilaku perundungan berkembang.

Perundungan bukanlah masalah sepele. Jika tidak ditangani dengan serius, dampaknya bisa berkepanjangan dan menghancurkan kehidupan seseorang.

Oleh karena itu, semua pihak harus mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini