Lubang Tambang Lebih Dalam dari Sungai, DAS Kelai Berau di Ambang Bencana

Dari hasil investigasi, terlihat bahwa lubang tambang terbuka hanya dibatasi oleh tanggul tanah yang relatif sempit.

Eko Faizin
Jum'at, 23 Januari 2026 | 14:45 WIB
Lubang Tambang Lebih Dalam dari Sungai, DAS Kelai Berau di Ambang Bencana
Foto udara jarak kritis antara lubang tambang terbuka dengan aliran utama sungai di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur oleh Jaringan Penulis Alam (JPA). [Ist]
Baca 10 detik
  • JATAM Kaltim menyoroti daerah aliran sungai dengan lubang tambang di Berau.
  • Lubang pertambangan batu bara terlihat lebih dalam dari daerah aliran sungai (DAS).
  • Kedekatan antara tambang dan aliran sungai menghadirkan ancaman dua arah.

SuaraKaltim.id - Aktivitas pertambangan batu bara di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelai, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), kembali menjadi sorotan serius.

Hasil investigasi lapangan menunjukkan posisi lubang tambang terbuka yang sangat berdekatan dengan aliran utama Sungai Kelai, menciptakan kondisi rawan yang dinilai membahayakan lingkungan sekaligus keselamatan masyarakat di sekitarnya.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi kegagalan tanggul dan berulangnya bencana ekologis yang pernah terjadi sebelumnya.

Penelusuran lapangan dilakukan setelah sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan lubang tambang dengan kedalaman yang tampak lebih rendah dibandingkan permukaan Sungai Kelai.

Untuk memastikan kebenaran visual tersebut, dilakukan investigasi langsung ke lokasi pertambangan batu bara di wilayah Berau. Hasil dokumentasi foto udara memperlihatkan jarak yang sangat terbatas antara area open pit tambang dan badan sungai utama.

Dokumentasi visual ini merupakan bagian dari investigasi lapangan yang dilakukan Jaringan Penulis Alam, sebuah wadah komunikasi jurnalis lintas media yang menaruh perhatian pada isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam.

Sejumlah media yang tergabung dalam jaringan tersebut terlibat langsung dalam pengumpulan data visual di lapangan.

Dari hasil investigasi, terlihat bahwa lubang tambang terbuka hanya dibatasi oleh tanggul tanah yang relatif sempit dari aliran Sungai Kelai.

Tanggul tersebut menjadi satu-satunya pemisah antara air sungai dan lubang tambang yang memiliki kedalaman signifikan.

Kondisi tanggul tidak hanya dinilai kritis dari sisi jarak, tetapi juga dari fungsinya. Di bagian atas tanggul tampak jalur operasional kendaraan berat yang digunakan untuk aktivitas pertambangan.

Lalu lintas alat berat dengan beban besar serta getaran yang ditimbulkan secara terus-menerus dinilai berpotensi melemahkan struktur tanggul dan meningkatkan risiko ketidakstabilan.

Kedekatan antara tambang dan sungai menghadirkan ancaman dua arah. Masuknya air Sungai Kelai ke area tambang berpotensi menenggelamkan pit aktif, sementara runtuhan material tambang ke sungai dapat mencemari air, mempercepat sedimentasi, dan memperparah pendangkalan Sungai Kelai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar.

Situasi tersebut mengingatkan pada insiden jebolnya tanggul tambang PT Rantaupanjang Utama Bhakti di Kecamatan Sambaliung pada Mei 2021.

Saat itu, luapan Sungai Kelai merobohkan tanggul perusahaan dan menggenangi lubang tambang aktif. Dampaknya, akses darat menuju Kampung Bena Baru terputus dan warga terpaksa mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi.

Dalam peristiwa tersebut, tidak terdapat sistem peringatan dini yang memadai. Warga tidak menerima alarm atau peringatan sebelum air meluap dan menggenangi permukiman serta fasilitas publik.

Kejadian itu kemudian tercatat sebagai salah satu banjir terbesar di Kabupaten Berau dalam dua puluh tahun terakhir.

Menanggapi temuan terbaru, Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur (JATAM Kaltim) menilai kondisi di DAS Sungai Kelai saat ini menunjukkan ancaman nyata.

Dinamisator JATAM Kaltim, Mustari Sihombing, menyampaikan pandangan tersebut melalui pernyataan pers tertulis.

“Dampak aktivitas pertambangan batubara di Kabupaten Berau hari ini bukan lagi sekadar persoalan pencemaran air atau sedimentasi sungai, melainkan telah mencapai tingkat yang jauh lebih mengkhawatirkan,” ujar Mustari dalam pernyataan tertulisnya.

Ia menyinggung visual lubang tambang di DAS Kelai yang kedalamannya melebihi aliran Sungai Kelai dan menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial.

Menurut Mustari, kondisi itu mencerminkan ancaman serius yang tidak bisa dianggap sepele.

“Ini dapat dibuktikan lewat data overlay yang menunjukkan terdapat 94 konsesi tambang yang beroperasi di Kabupaten Berau, dari jumlah tersebut terdapat tujuh konsesi berada di wilayah hulu dan tengah DAS Kelai,” ujarnya.

Mustari menyebut Kabupaten Berau sebagai salah satu daerah dengan kepadatan izin tambang batu bara tertinggi di Kaltim. Ia menilai aktivitas pertambangan telah mengubah bentang alam secara masif.

“Hutan dibabat, tanah dikeruk hingga puluhan meter, dan lubang lubang tambang dibiarkan menganga tanpa pemulihan memadai,” katanya.

Menurutnya, Sungai Kelai memegang peran vital sebagai penyangga kehidupan masyarakat Berau, mulai dari sumber air baku, jalur transportasi, hingga penopang ekosistem masyarakat adat dan kampung-kampung di sepanjang aliran sungai. Ketika lubang tambang lebih dalam dari sungai, risiko ekologis yang ditanggung wilayah tersebut menjadi semakin besar.

“Ketika lubang tambang lebih dalam dari badan sungai, maka secara ekologis wilayah ini sedang dipaksa menampung risiko besar, perubahan aliran air tanah, kerentanan longsor, hingga potensi jebolnya struktur tanah saat curah hujan tinggi,” jelasnya.

JATAM Kaltim mencatat bahwa lubang-lubang tambang kini berfungsi layaknya perangkap bencana.

Mustari menjelaskan bahwa ketika hujan deras, air dari wilayah hulu tidak lagi tertahan oleh tutupan hutan.

“Air langsung mengalir membawa lumpur, sedimen, dan limbah tambang ke Sungai Kelai,” lanjutnya.

Dampaknya, pendangkalan Sungai Kelai semakin parah, debit air meningkat, dan banjir berulang menjadi ancaman tahunan bagi warga di sepanjang aliran sungai.

Mustari menegaskan bahwa kondisi ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi kerusakan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

“Bencana itu sudah dicicil sejak tahun dua ribu dua puluh satu lalu tepatnya pada bulan Mei saat hujan deras melanda Kabupaten Berau sehingga membuat Sungai Kelai mengamuk dan menenggelamkan rumah serta akses publik lainnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, peristiwa tersebut menjadi pintu awal bencana ekologis besar dan tercatat sebagai banjir terbesar dalam dua puluh tahun terakhir.

Berdasarkan catatan JATAM Kaltim, kejadian serupa kembali terulang pada penghujung tahun 2025.

Mustari juga menyoroti sikap pemerintah daerah yang dinilainya masih memandang banjir sebagai fenomena alam semata.

Ia mengutip pernyataan Wakil Gubernur Kaltim yang menyebut banjir telah terjadi sejak dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu dan tidak berkaitan dengan aktivitas tambang.

“Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mereka seolah menutupi akar masalah yang menjadi biang kerok bencana yang terjadi saat ini,” sebutnya.

Menurut Mustari, keberadaan lubang tambang yang lebih dalam dari sungai tidak hanya mencerminkan praktik ekstraktivisme berlebihan, tetapi juga kegagalan melindungi ruang hidup masyarakat.

Ia menilai selama izin tambang masih berada di wilayah hulu DAS Kelai dan reklamasi hanya berhenti di atas kertas, ancaman ekologis di Berau akan terus berulang.

“Sungai Kelai tidak sedang sakit oleh alam, melainkan dirusak secara sistematis oleh kebijakan yang lebih berpihak pada tambang dibanding keselamatan warga,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, JATAM Kaltim menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari audit lingkungan menyeluruh terhadap seluruh perusahaan tambang di Kabupaten Berau hingga pembekuan sementara seluruh aktivitas pertambangan selama proses audit berlangsung.

Mereka juga mendesak penegakan hukum yang tegas dan transparan serta pemulihan menyeluruh atas kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu bara di wilayah tersebut.

Kontributor: Giovanni Gilbert

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini