Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA

PrimeCare dibangun di atas lahan sekitar 0,8 hektare dengan luas bangunan mencapai 11.000 meter persegi.

Eko Faizin
Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:45 WIB
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
RS Primecare Samarinda. [Suara.com/Denada S Putri]
Baca 10 detik
  • RS PrimeCare Samarinda resmi beroperasi di Kalimantan Timur sejak memperoleh izin operasional pada tanggal 13 Februari 2026.
  • Rumah sakit swasta tersebut menyediakan 96 tempat tidur serta mengandalkan teknologi minimal invasif dan laboratorium genomik.
  • Kehadiran fasilitas kesehatan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Kalimantan Timur terhadap pengobatan di luar negeri.

SuaraKaltim.id - Persaingan layanan kesehatan di Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki babak baru.

RS PrimeCare Samarinda resmi beroperasi penuh setelah memperoleh izin operasional pada 13 Februari 2026, dengan membawa ambisi mengurangi ketergantungan masyarakat Kaltim terhadap layanan kesehatan di luar daerah hingga luar negeri.

Rumah sakit swasta yang berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi tersebut tidak hanya menambah kapasitas layanan kesehatan di Samarinda, tetapi juga menawarkan pendekatan berbeda melalui teknologi medis, prosedur minimal invasif, layanan berbasis rekam medis elektronik, hingga pengembangan laboratorium genomik.

Direktur RS PrimeCare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, mengatakan proses pendirian rumah sakit dilakukan setelah pihaknya mendapatkan izin operasional dari Pemerintah Kota Samarinda dan Dinas Kesehatan pada Februari 2026.

"Rumah Sakit PrimeCare Samarinda mendapat izin operasional pada tanggal 13 Februari 2026 dari Dinas Kesehatan dan Wali Kota Samarinda. Sejak itu kita mulai menyiapkan soft opening dan hari ini kita grand opening," kata Boy dalam konferensi pers Grand Opening RS PrimeCare Samarinda.

Menurut Boy, kehadiran PrimeCare sekaligus merespons kebutuhan layanan kesehatan di Samarinda yang terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan spesialis.

Posisi Samarinda sebagai ibu kota Kaltim sekaligus salah satu kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan dengan layanan yang lebih beragam dan berteknologi.

Tambah Kapasitas 96 Tempat Tidur

PrimeCare dibangun di atas lahan sekitar 0,8 hektare dengan luas bangunan mencapai 11.000 meter persegi.

Bangunan rumah sakit terdiri atas dua lantai pada bagian depan dan empat lantai di bagian belakang.

Rumah sakit tersebut memiliki 16 ruang poliklinik serta kapasitas 96 tempat tidur rawat inap yang dibagi ke dalam sejumlah kelas pelayanan.

Boy merinci, kapasitas tersebut terdiri atas 23 tempat tidur standar, 22 tempat tidur deluxe, 25 tempat tidur VIP, satu suite room, dan satu president suite.

Dari sisi sumber daya manusia, PrimeCare kini mempekerjakan sekitar 130 tenaga kerja yang mayoritas berasal dari Samarinda dan wilayah sekitarnya.

"Ada kurang lebih 50 dokter spesialis dan dokter umum. Di antaranya ada 11 dokter tetap yaitu spesialis yang memang menjadi karyawan rumah sakit PrimeCare," ujarnya.

Sekitar 95 persen tenaga kerja PrimeCare disebut direkrut dari Samarinda dan daerah sekitar.

Sementara sebagian lainnya didatangkan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan terhadap tenaga medis tertentu yang masih terbatas di Benua Etam.

Ketersediaan dokter spesialis sendiri masih menjadi salah satu persoalan dalam pengembangan layanan kesehatan di daerah.

Investasi terhadap fasilitas dan teknologi medis tidak akan optimal apabila tidak diikuti kecukupan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikannya.

Teknologi Minimal Invasif Jadi Andalan

Untuk membangun daya saing, PrimeCare memilih layanan minimal invasif sebagai salah satu bidang yang akan dikembangkan.

Konsep tersebut mengandalkan prosedur medis dengan sayatan atau luka operasi yang lebih kecil dibandingkan metode konvensional.

Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan proses pemulihan yang lebih cepat sekaligus mengurangi trauma terhadap pasien.

Sejumlah perangkat medis telah disiapkan, antara lain laser holmium untuk penanganan batu ginjal dan pembesaran prostat, C Arm untuk kebutuhan pencitraan selama tindakan medis, serta CT Scan 126 slice.

"Dari sisi kemampuan medis rumah sakit ini memiliki beberapa keunggulan yang kita akan dorong ke depan yaitu seperti keunggulan dalam bidang-bidang minimal invasif. Operasi-operasi dengan teknologi yang cukup tinggi," ujarnya.

Penggunaan teknologi tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi PrimeCare untuk menghadirkan layanan yang selama ini lebih banyak dicari masyarakat di kota-kota besar.

Namun, keberadaan perangkat medis berteknologi tinggi bukan satu-satunya faktor penentu.

Kemampuan dokter dan tenaga medis dalam memanfaatkan teknologi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit yang ingin mengembangkan layanan spesialis.

Laboratorium Genomik Disiapkan

Tidak berhenti pada layanan medis konvensional dan minimal invasif, PrimeCare juga tengah mempersiapkan laboratorium genomik.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi dalam satu hingga dua bulan mendatang dengan menggunakan teknologi sequencer untuk membaca dan menganalisis DNA.

Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan terhadap faktor genetik yang berkaitan dengan sejumlah penyakit, termasuk kanker, diabetes, maupun penyakit kardiovaskular.

"Beberapa cancer juga itu bisa dideteksi dengan alat ini dan juga mungkin potensi-potensi penyakit seperti diabetes, jantung melalui hal ini," katanya.

Pengembangan laboratorium genomik dilakukan PrimeCare melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

Kehadiran fasilitas tersebut berpotensi membuka akses terhadap layanan pemeriksaan genetik yang selama ini relatif terbatas dan lebih banyak berkembang di kota-kota besar.

Meski demikian, pemanfaatan genomik dalam pelayanan kesehatan juga akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari ketersediaan tenaga ahli, biaya pemeriksaan, hingga kemampuan dokter mengintegrasikan hasil pemeriksaan genetik ke dalam keputusan klinis.

Bangun Smart Hospital

Digitalisasi menjadi bagian lain dari konsep layanan yang ditawarkan PrimeCare.

Rumah sakit tersebut mengembangkan konsep smart hospital dengan mengintegrasikan berbagai proses pelayanan ke dalam sistem rekam medis elektronik.

Mulai dari proses pendaftaran, pemeriksaan laboratorium, hasil radiologi hingga catatan medis pasien dirancang berada dalam satu sistem yang terintegrasi.

"Karena rumah sakit ini mendukung smart hospital, maka aplikasi-aplikasi sejak pendaftaran, integrasi dari hasil-hasil radiologi dan hasil-hasil dari laboratorium itu melalui satu medical record," ujarnya.

Sistem tersebut diharapkan dapat mempercepat pertukaran informasi medis sekaligus membantu dokter dalam mengambil keputusan berdasarkan data pasien yang tersedia secara terintegrasi.

Dalam menjalankan operasional rumah sakit, PrimeCare menetapkan empat fokus utama, yakni kepatuhan terhadap regulasi, peningkatan mutu layanan, pengalaman pasien, serta manajemen risiko.

Bagi manajemen, pengalaman pasien menjadi salah satu aspek yang tidak kalah penting dengan keberhasilan tindakan medis.

"Yang penting juga kita akan menjaga pengalaman pasien. Keeping the best patient experience in this hospital," katanya.

Mengejar Pasien yang Selama Ini Berobat ke Malaysia dan Singapura

Ambisi PrimeCare tidak hanya berhenti pada penambahan kapasitas layanan kesehatan di Samarinda.

Rumah sakit tersebut secara terbuka membidik pasien Kaltim yang selama ini memilih mendapatkan pengobatan di luar daerah maupun luar negeri.

Direktur Utama PrimeCare, John Kwari, mengatakan gagasan pembangunan rumah sakit tersebut berawal dari pengalaman mengelola PrimeCare Clinic yang telah beroperasi sejak 2021.

Selama mengelola klinik, pihaknya menerima berbagai masukan dari pasien, dokter, keluarga, maupun masyarakat mengenai kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang lebih lengkap.

"Kita mulai dari PrimeCare Clinic. Dari pengalaman itu kita sudah dengar banyak masukan dari sahabat, dari dokter, dari keluarga, dari teman. Masukan itu, kalau bisa kenapa enggak rumah sakit saja," kata John.

Menurut John, strategi membangun kepercayaan pasien tidak cukup hanya dengan menghadirkan peralatan medis berteknologi tinggi.

"Yang paling penting bukan alatnya, tetapi patient centered care dan holistic care itu jalan di sini," ujarnya.

Selama ini, sebagian masyarakat Kaltim memilih berobat ke Jakarta, Surabaya, Malaysia hingga Singapura ketika membutuhkan layanan tertentu.

Faktor dokter spesialis, teknologi medis, pengalaman pelayanan, hingga persepsi terhadap kualitas layanan menjadi sejumlah pertimbangan pasien.

PrimeCare ingin mengambil ceruk tersebut dengan menawarkan layanan yang memungkinkan masyarakat memperoleh perawatan tanpa harus meninggalkan Bumi Mulawarman.

"Kita harap pasien ini yang biasanya pergi ke Malaysia atau Singapura dan tempat lain, kalau sudah merasa nyaman sama kita, ada kepercayaan sama kita tentang service quality-nya kita, dokter, caranya konsultasi, sabarnya, empathy-nya kita untuk pasien, dia rasanya enggak usah pergi ke negara lain," katanya.

Namun, target tersebut bukan perkara mudah.

Kepercayaan pasien tidak bisa dibangun hanya melalui grand opening atau investasi peralatan medis.

Konsistensi mutu pelayanan, ketersediaan dokter spesialis, biaya layanan, serta kualitas pengalaman pasien akan menjadi faktor yang menentukan apakah pasien benar-benar bersedia mengalihkan pilihan berobatnya.

Di sisi lain, keberadaan rumah sakit baru juga memberikan tambahan kapasitas bagi Samarinda yang menghadapi kebutuhan layanan kesehatan seiring pertumbuhan penduduk.

Boy menyebut rasio tempat tidur rumah sakit di Samarinda saat ini baru sekitar 1,7 tempat tidur per 1.000 penduduk.

Angka tersebut masih berada di bawah standar nasional yang mencapai tiga tempat tidur per 1.000 penduduk.

Dengan perkembangan Samarinda sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Kaltim serta kota penyangga IKN, kebutuhan layanan kesehatan diperkirakan akan semakin meningkat.

Pada titik inilah tantangan PrimeCare tidak hanya terletak pada kemampuan mendatangkan teknologi kesehatan terbaru, tetapi juga memastikan teknologi tersebut ditopang tenaga medis yang memadai.

"Kalau alat investasi itu lebih mudah. Yang problem adalah sumber daya manusia. Untuk teknologi itu sudah ada, tetapi SDM dokter spesialisnya apakah ada," ujar Boy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini