SuaraKaltim.id - Hingga saat ini, memang masih belum ada vaksin Covid-19 yang bisa mencegah penularan. Namun, menurut Ahli Virologi Sidrotun Naim vaksin Covid-19 bisa mengurangi risiko kematian.
Fenomena ini terlihat setelah virus corona varian Delta menyebar sangat cepat ke seluruh dunia. Sehingga jadi varian of concern (VOC) oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Naim mengatakan, semua orang yang sudah divaksinasi dengan jenis vaksin apapun, bisa tetap menularkan varian delta ke orang lain.
"Vaksin untuk mencegah penularan gagal semuanya, penularan tetap terjadi dengan menggunakan vaksin apapun," ujar Naim di salah satu acara diskusi, disadur dari Suara.com, Kamis (12/8/2021).
Itulah mengapa beberapa negara, seperti Amerika Serikat yang sebelumnya sudah memperbolehkan masyarakat yang telah divaksinasi lepas masker di tempat publik.
Baca Juga: Aturan Prokes 6M Dianggap Terlalu Ribet, Virolog dan Epidemiolog Saran 1M Saja
Namun pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika atau CDC, merevisi kembali aturan tersebut dan mewajibkan masker meski sudah divaksinansi karena varian Delta.
Meski begitu kata Naim, vaksin mampu mencegah risiko keparahan atau kematian akibat Covid-19. Hal ini terbukti di beberapa negara yang angka vaksinasinya tinggi, dan lonjakan kasus Covid-19 harian bertambah, tapi angka kematian cenderung lebih rendah.
"Amerika itu kasus baru per hari 100 ribu. Singapura juga kasus barunya tinggi, tapi negara-negara ini kematiannya sedikit dan kuncinya vaksinasi," terang Naim.
Berdasarkan data worldometers, pada 10 Agustus 2021 di Amerika Serikat tembus 100 ribu kasus baru, dengan kematian baru 657 korban jiwa. Di hari yang sama, Singapura tercatat ada 63 kasus baru, tapi tidak ada kematian baru.
Nahasnya, masih di hari yang sama kasus baru Indonesia tembus 32 ribu, dengan lebih dari 2.000 nyawa melayang di hari yang sama karena Covid-19.
Baca Juga: Kisah Pengusaha Tenun di Kediri, Sempat Jual Tanah Karena Dihantam Pandemi Covid-19
Itulah mengapa, menurut Naim, vaksinasi sangat berperan besar mencegah perburukan atau kematian akibat terinfeksi virus corona varian Delta.
Berita Terkait
-
Vaksin BCG Produksi Bio Farma Resmi Dapatkan Label Halal
-
Pasar Saham Indonesia Terjun Hebat, Lebih Parah dari IHSG Era Pandemi COVID-19?
-
Trump Sempat Telepon Presiden China Soal Asal-Usul COVID, Ini Kata Mantan Kepala CDC!
-
Kasus Campak Meroket di Berbagai Negara Tetangga Indonesia, Mengapa?
-
Survei: Milenial Rela Rogoh Kocek Lebih Dalam untuk Rumah Modern Minimalis
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
APBD Terpangkas Rp 300 Miliar, Pemkab PPU Matangkan Program Kartu Cerdas
-
Libur Lebaran di Beras Basah: 3.000 Pelancong, Mayoritas Wisatawan Lokal
-
Harga Sewa Kapal ke Pulau Beras Basah: Mulai Rp 550 Ribu, Ini Daftarnya!
-
Dua Penghargaan Internasional dari The Asset Triple A Awards 2025 Sukses Diboyong BRI
-
Dari Nganjuk ke Sepaku, Wisatawan Rela Tempuh Perjalanan Jauh Demi IKN