SuaraKaltim.id - Sebuah sejarah kelam Bumi Pertiwi pernah terjadi di 1965 lalu. Pada tahun tersebut, hampir sebagian besar wilayah di Tanah Air mengalami kerusuhan yang terus membekas hingga kini.
Tak terkecuali di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Terdapat sebuah tugu pernah kokoh berdiri di wilayah Sungai Pinang dengan lambang alat pertukangan dan pertanian yang menjadi salah satu lambang partai politik (Parpol).
Tugu itu sudah dihancurkan masyarakat setempat. Massa yang emosi melampiaskan amarahnya ketika mendapatkan kabar bahwa partai itu diduga merupakan tempat para orang-orang yang tidak beragama dan anti Tuhan. Bahkan partai tersebut, dituding sebagai dalang dari pembunuhan sadis para 6 Jendral, dan 1 Perwira, tanggal 1 Oktober 1965.
Nama parpol itu ialah Partai Komunis Indonesia (PKI). Di Samarinda sendiri, partai itu pernah memiliki seorang pemimpin yang memiliki darah keturunan Arab, sekaligus seorang bangsawan dari Kutai Kertanegara (Kukar). Sosok itu bernama Sayid Fachrul Baraqbah.
Di 1945 sampai 1949, Sayid Fachrul bergabung dalam Laskar Gerilyawan Pejuang Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Ketika terjadi pertempuran di Sanga-Sanga, dirinya juga berkoordinasi dengan gerilyawan Samarinda.
Pada saat para pasukan Indonesia menyingkir ke pedalaman, Sayid Fachrul menyingkir ke kota Surabaya, Jawa Timur menggunakan perahu.
Tahun 1948 di Jawa Timur, terjadi peristiwa Madiun, saat itu Fachrul bergabung dalam Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin. Di situlah ia mulai berkenalan dengan yang namanya PKI. Walaupun sebenarnya, ia tak memahami secara mendalam terhadap ideologi PKI.
Secara nasional PKI berhasil dihidupkan Kembali oleh DN Aidit, Fachrul pun kembali ke Samarinda dan mendirikan PKI Committee Daerah Besar (CDB) di Bumi Mulawarman. Mulanya, ia sebagai sekretaris, sebelum menduduki jabatan Ketua PKI.
“Tahun 1955 PKI untuk tingkat nasional atau legislatif DPR-RI, dapat mengutus satu kursi. Saat itu Provinsi Kaltim belum berdiri. Saat provinsi Kaltim berdiri tahun 1957, di tahun 1958 ada pemilihan lokal untuk memilih DPRD dan di situ PKI dapat 3 kursi. Suara PKI urutan keempat di Kaltim. Fachrul juga mendapatkan posisi Wakil Ketua DPRD,” ucap Sejarawan Kaltim, Muhammad Sarip saat ditemui, Rabu (29/9/2021).
Baca Juga: Sejarah Peristiwa Gerakan 30 September 1965 dalam Berbagai Versi
Kekuatan utama PKI di Kaltim para kaum buruh minyak, dan diperkuat dengan kedatangan Hario Kecik
Saat itu, kekuatan utama PKI di Kaltim adalah kaum buruh minyak. PKI juga mendirikan sebuah organisasi sayap yaitu, Persatuan Buruh Minyak (Perbum). Di situ, posisi PKI sangat kuat karena kedatangan panglima Daerah Militer IX Mulawarman, yaitu Kolonel Soehario Padmodiwirio atau yang disapa Hario Kecik.
“Soehario ditunjuk sebagai Pimpinan Front Nasional yang merupakan sebuah lembaga yang dibentuk pada tahun 1961 oleh Presiden Sukarno,” jelas pria yang kerap disapa Bang Sarip itu.
Fachrul pun membawa nama PKI Kaltim, dan tidak mengherankan bagi Sarip sooal hal itu. Pasalnya, Hario Kecik kala itu disebut bersimpati kepada PKI. Kemudian, Front Nasional makin beraroma komunis tatkala Nyonya Sutijo dinobatkan sebagai wakil sekretaris.
Sutijo merupakan pimpinan provinsi organisasi perempuan yang mempunyai hubungan dengan PKI Gerwani. Hal ini juga yang membuat koalisi buruh di Front Nasional terbelah. Bahkan PKI dianggap selalu menyudutkan buruh-buruh muslim.
Kendati itu, pengaruh Front Nasional bersama PKI dan Perbum sangatlah kuat di Balikpapan. Mereka bergerak di 1961 berawal dari Indonesia yang saat itu memutus hubungan diplomatik dengan Belanda, lantaran perebutan Irian Barat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Dana Ilegal Tidak Mengalir ke Perbankan, Kejati Sebut Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Dikembalikan
-
Pertamax Naik, Dapat Pertalite di Kota Minyak Semakin Sulit
-
Salahgunakan Pemberian KUR, Delapan Ibu-ibu di Samarinda Diamankan Kejaksaan
-
Kini Hindari Wawancara, Gaya Komunikasi Gubernur Rudy Mas'ud Jadi Sorotan
-
Diskominfo Kaltim Soroti Media Lokal Abaikan Kode Etik Demi Viralitas